Langsung kita lanjutkan postingan sebelumnya, yaitu Menyapih dengan Rela (Part 3). Sakit membuatnya jauh dari kata nyaman. Nafsu makan pun menurun drastis. Lebih sedihnya lagi, saat ingin makan pun, dia kesakitan saat menelan. Pusing. Saya benar-benar pusing.
Sempat terpikir untuk memberinya susu formula. Namun, dokter berkata bahwa itu tidak perlu. Mengingat usianya yang sudah dua tahun. Dokter berkata bahwa kebutuhan gizi yang dibutuhkan anak di atas dua tahun bukan lagi dari susu, melainkan dari makanan padat. Akhirnya, dokter menyarankan untuk minum susu formula hanya saat dia sakit saja. Untuk menghindari penurunan berat badan yang drastis karena kesulitan makan.
Ternyata anak saya menolak susu tersebut. Saya pun mencicipinya, ternyata rasanya sangat manis. Susu itu akhirnya terabaikan. Kalaupun dia mau, hanya satu atau dua teguk saja. Saya justru beryukur karena anak saya menolak minuman yang terlalu manis.
Menghadapi anak yang sedang sakit tentu butuh tenaga ekstra. Dia sering minta digendong agar tenang. Padahal, seharian ayahnya bekerja. Hanya ada kami berdua. Saya sadar bahwa saya tetap harus menjaga stamina agar tidak ikut sakit.
Tidurnya jauh dari kata lelap. Pasti terbangun. Akhirnya, bila dia terbangun saat saya harus istirahat, saya menyusuinya kembali hingga dia terlelap dan saya bisa ikut tidur sesaat. Setidaknya cukup untuk memelihara akal sehat saya. Ya, artinya saat itu menyapihnya mengalami kemunduran.
Itu saat tidur siang. Saat tidur malam, ayahnya membantu menggendong untuk membuatnya tenang dan tidur dengan nyaman. Butuh kerja sama di sini. Saat ayahnya menenangkan, saya yang tidur. Saat ayahnya tidur, saya yang menenangkan. Bila kami berdua tertidur dan dia menangis terbangun, maka saya menyusuinya lagi hingga tertidur.
Alhamdulillah, sekitar seminggu kondisinya membaik. Nafsu makannya mulai kembali. Hanya saja, tidurnya masih sering terbangun. Mungkin karena merasa terganggu dengan bintik merah di kaki yang mulai kering dan mengelupas.
Proses menyapih pun berlanjut lagi karena dia sudah tidak rewel sepanjang hari. Walaupun masih sering terbangun untuk menggaruk kakinya. Sempat khawatir, apakah dia mau tertidur lagi tanpa disusui. Ternyata bisa. Saya hanya menimangnya lagi di pangkuan saat dia terbangun. Dia pun melanjutkan tidurnya.
Akhirnya, anak saya total tidak minum ASI lagi. Apakah saya menyambungnya dengan susu formula? Tidak. Hanya susu UHT. Itu pun tidak banyak. Dokter berkata bahwa setelah anak usia dua tahun kebutuhan gizinya bukan dari susu lagi, tetapi makanan. Susu hanya sebagai pelengkap. Anak hanya mau minum susu sedikit pun tidak masalah. Beliau berkata bahwa belajar makan jauh lebih penting daripada terus-menerus menikmati susu saja.
Setelah proses menyapih berhasil, tampak bahwa yang utama dari proses menyapih adalah komunikasi dengan buah hati. Juga harus yakin bahwa dia memang mengerti. Percaya bahwa setiap hal ada waktunya masing-masing. Ada saat memulai, ada pula saat mengakhiri. Walau harus siap bila ternyata ada tantangan di luar dugaan. Misalnya, ternyata tiba-tiba anak sakit seperti yang saya hadapi. Saya yakin setiap ibu dan anak pasti dimampukan untuk melaluinya.
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Jumat, 17 Juli 2020
Jumat, 17 April 2020
Menyapih dengan Rela (Part 3)
Yuk kita lanjutkan tulisan sebelumnya yang berjudul Menyapih dengan Rela (Part 2). Tahap selanjutnya hanya menyusu saat jam tidur. Baik tidur siang maupun tidur malam dia tetap boleh meminta ASI. Namun, di luar waktu tersebut sama sekali tidak boleh.
Hari pertama memulai level ini, dia sempat meminta ASI bukan pada jam tidur. Saya menolak dengan berkata bahwa menyusunya saat jam tidur saja. Syukurlah, dia langsung mengerti. Bahkan, tahap ini membuat dia rajin tidur siang. Mungkin karena ingin segera menikmati ASI-nya.
Tiga hari berjalan lancar tanpa kendala. Kami pun lanjut ke tingkat selanjutnya, yaitu tidak ada ASI saat terbangun ketika tidur siang. Kadang dia tidur siang dengan pulas tanpa terbangun. Namun, kadang juga terbangun dan meminta ASI. Nah, kini dia mulai belajar untuk tidak menyusu saat terbangun ketika tidur siang.
Hari pertama kebetulan dia tidur siang dengan pulas. Sayangnya, hari kedua tidak demikian. Dia terbangun. Kemudian saya hanya menimangnya dalam pangkuan. Alhamdulillah, dia tertidur lagi. Hari-hari selanjutnya juga demikian. Kadang dia pulas, tetapi bila terbangun sudah cukup ditenangkan dengan ditimang dalam pangkuan.
Tahap ini berlangsung beberapa hari. Setelah dia tampak terbiasa, kami berlanjut ke tahap selanjutnya, yaitu tidak menyusu saat terbangun di malam hari. Jujur, memulai tahap ini cukup mendebarkan bagi saya. Saya takut dia rewel tengah malam hingga tidak bisa tidur, yang artinya saya juga harus begadang.
Setiap akan naik level, saya selalu memberi tahunya terlebih dahulu. Termasuk saat akan memasuki tahap ini. Dia menjawab bahwa dia mengerti. Kebetulan memang sebelum umur 2 tahun dia sudah lancar berbicara.
Malam pertama untuk level ini pun berlangsung. Sebelum tidur dia berkata sudah paham bahwa dia tidak menyusu lagi bila terbangun tengah malam. Sayang, tengah malam dia menangis dan terbangun. Untungnya, saya belum mengantuk saat itu. Sehingga dapat berpikir jernih.
Dia terbangun, menangis dengan mata terpejam dan mencari ASI. Saya pun membangunkannya sekalian dan tangisnya langsung berhenti. Sebab, saya yakin dia tidak sepenuhnya sadar saat itu. Setelah itu matanya terbuka dan saya mengingatkan bahwa mulai malam itu sudah tidak bisa menyusu lagi bila terbangun. Dia mengangguk. Saya menimangnya dalam pangkuan. Dalam hitungan detik dia langsung terlelap kembali. Syukurlah, ini tidak sesulit yang dibayangkan.
Saya juga menyediakan air putih dalam botol di dekat kasur. Jadi, saat dia terbangun akan saya tanyakan dulu apakah dia haus dan ingin minum. Kadang dia ingin minum beberapa teguk, kadang tidak. Ini saran dokter. Khawatir kalau dia terbangun memang karena haus. Setelah itu, baru saya menimangnya di pangkuan.
Itu yang selalu saya lakukan jika dia terbangun di malam hari. Dia pun sudah tahu bahwa tak perlu lagi menyusu saat terbangun. Setelah seminggu, saya berlanjut ke tahap selanjutnya. Hanya menyusu satu kali sebelum tidur. Sebab, saat ASI saya sudah berkurang, kadang dia menyusu 2 atau bahkan 3 kali sebelum tidur. Jadi, kini dalam sehari saya akan menyusuinya dua kali saja. Satu kali sebelum tidur siang dan satu kali sebelum tidur malam.
Tahap ini ternyata mudah dimengerti olehnya. Dia sudah paham tentang yang dimaksud dengan satu kali. Jadi, bila menjelang tidur dia sudah menyusu satu kali, tetapi tetap belum bisa terlelap, maka saya hanya akan menimang dalam pangkuan untuk membantunya tidur. Itu yang saya lakukan baik saat tidur siang maupun malam.
Sayang, ketika mencapai fase ini, ada cobaan datang. Buah hati kami ini sakit. Tenggorokannya sangat sakit dan tidak nyaman untuk makan. Bahkan untuk minum juga. Jika dilihat, ada semacam sariawan dalam jumlah yang sangat banyak di tenggorokannya. Dia tetap ada keinginan untuk makan, tetapi ketika menelan dia merintih sakit hingga tidak sanggup melanjutkannya. Saya sangat cemas. Sedang disapih, tetapi tiba-tiba dia harus kesulitan makan dan minum. Tubuhnya demam. Muncul bintik merah menyerupai cacar air di kakinya. Paling banyak di telapak kaki. Kata dokter, penyakit ini disebabkan oleh virus coxsackie.
Apa yang saya lakukan? Apakah melanjutkan proses sapih? Ataukah menghentikannya? Atau justru mundur ke level sebelumnya? Saya lanjutkan di tulisan selanjutnya, yaitu Menyapih dengan Rela (Last Part)
Hari pertama memulai level ini, dia sempat meminta ASI bukan pada jam tidur. Saya menolak dengan berkata bahwa menyusunya saat jam tidur saja. Syukurlah, dia langsung mengerti. Bahkan, tahap ini membuat dia rajin tidur siang. Mungkin karena ingin segera menikmati ASI-nya.
Tiga hari berjalan lancar tanpa kendala. Kami pun lanjut ke tingkat selanjutnya, yaitu tidak ada ASI saat terbangun ketika tidur siang. Kadang dia tidur siang dengan pulas tanpa terbangun. Namun, kadang juga terbangun dan meminta ASI. Nah, kini dia mulai belajar untuk tidak menyusu saat terbangun ketika tidur siang.
Hari pertama kebetulan dia tidur siang dengan pulas. Sayangnya, hari kedua tidak demikian. Dia terbangun. Kemudian saya hanya menimangnya dalam pangkuan. Alhamdulillah, dia tertidur lagi. Hari-hari selanjutnya juga demikian. Kadang dia pulas, tetapi bila terbangun sudah cukup ditenangkan dengan ditimang dalam pangkuan.
Tahap ini berlangsung beberapa hari. Setelah dia tampak terbiasa, kami berlanjut ke tahap selanjutnya, yaitu tidak menyusu saat terbangun di malam hari. Jujur, memulai tahap ini cukup mendebarkan bagi saya. Saya takut dia rewel tengah malam hingga tidak bisa tidur, yang artinya saya juga harus begadang.
Setiap akan naik level, saya selalu memberi tahunya terlebih dahulu. Termasuk saat akan memasuki tahap ini. Dia menjawab bahwa dia mengerti. Kebetulan memang sebelum umur 2 tahun dia sudah lancar berbicara.
Malam pertama untuk level ini pun berlangsung. Sebelum tidur dia berkata sudah paham bahwa dia tidak menyusu lagi bila terbangun tengah malam. Sayang, tengah malam dia menangis dan terbangun. Untungnya, saya belum mengantuk saat itu. Sehingga dapat berpikir jernih.
Dia terbangun, menangis dengan mata terpejam dan mencari ASI. Saya pun membangunkannya sekalian dan tangisnya langsung berhenti. Sebab, saya yakin dia tidak sepenuhnya sadar saat itu. Setelah itu matanya terbuka dan saya mengingatkan bahwa mulai malam itu sudah tidak bisa menyusu lagi bila terbangun. Dia mengangguk. Saya menimangnya dalam pangkuan. Dalam hitungan detik dia langsung terlelap kembali. Syukurlah, ini tidak sesulit yang dibayangkan.
Saya juga menyediakan air putih dalam botol di dekat kasur. Jadi, saat dia terbangun akan saya tanyakan dulu apakah dia haus dan ingin minum. Kadang dia ingin minum beberapa teguk, kadang tidak. Ini saran dokter. Khawatir kalau dia terbangun memang karena haus. Setelah itu, baru saya menimangnya di pangkuan.
Itu yang selalu saya lakukan jika dia terbangun di malam hari. Dia pun sudah tahu bahwa tak perlu lagi menyusu saat terbangun. Setelah seminggu, saya berlanjut ke tahap selanjutnya. Hanya menyusu satu kali sebelum tidur. Sebab, saat ASI saya sudah berkurang, kadang dia menyusu 2 atau bahkan 3 kali sebelum tidur. Jadi, kini dalam sehari saya akan menyusuinya dua kali saja. Satu kali sebelum tidur siang dan satu kali sebelum tidur malam.
Tahap ini ternyata mudah dimengerti olehnya. Dia sudah paham tentang yang dimaksud dengan satu kali. Jadi, bila menjelang tidur dia sudah menyusu satu kali, tetapi tetap belum bisa terlelap, maka saya hanya akan menimang dalam pangkuan untuk membantunya tidur. Itu yang saya lakukan baik saat tidur siang maupun malam.
Sayang, ketika mencapai fase ini, ada cobaan datang. Buah hati kami ini sakit. Tenggorokannya sangat sakit dan tidak nyaman untuk makan. Bahkan untuk minum juga. Jika dilihat, ada semacam sariawan dalam jumlah yang sangat banyak di tenggorokannya. Dia tetap ada keinginan untuk makan, tetapi ketika menelan dia merintih sakit hingga tidak sanggup melanjutkannya. Saya sangat cemas. Sedang disapih, tetapi tiba-tiba dia harus kesulitan makan dan minum. Tubuhnya demam. Muncul bintik merah menyerupai cacar air di kakinya. Paling banyak di telapak kaki. Kata dokter, penyakit ini disebabkan oleh virus coxsackie.
Apa yang saya lakukan? Apakah melanjutkan proses sapih? Ataukah menghentikannya? Atau justru mundur ke level sebelumnya? Saya lanjutkan di tulisan selanjutnya, yaitu Menyapih dengan Rela (Last Part)
Jumat, 10 April 2020
Menyapih dengan Rela (Part 2)
Ini lanjutan dari Menyapih dengan Rela. Hari kedua, dia masih meminta ASI saat di mobil. Kami pun mengingatkan bahwa proses menyudahi ASI sudah dimulai dari tidak menyusu di mobil dan kemarin dia berhasil. Namun, ia tetap tidak mau meminum susu UHT-nya dan meminta ASI, lalu menangis. Beruntung, 5 menit kemudian kami sudah sampai di rumah. Dia pun teralihkan dengan bermain di rumah.
Hari ketiga, dia sudah mengerti bahwa tidak ada lagi menyusu di mobil. Dia meminum susu UHT atau melakukan hal lain. Yang jelas dia sudah tahu bahwa di mobil tidak minum ASI lagi.
Bagaimana bila perjalanannya cukup jauh? Alhamdulillah, dia tetap mengerti. Sebelum mulai proses sapih dia selalu meminta ASI saat akan tidur di mobil. Kini tidak lagi. Dia hanya minta untuk dipeluk, lalu akan tertidur begitu saja di perjalanan.
Alhamdulillah, artinya tahap pertama sudah terlalui. Sudah ada peningkatan dalam proses menyapih ini. Semua lancar. Rencananya setelah seminggu tahap pertama ini, kami baru akan lanjut ke tahap berikutnya.
Ketika akan lanjut ke tahap berikutnya, ternyata beberapa sanak saudara datang menginap beberapa hari di rumah. Akhirnya, kami memutuskan untuk tidak naik level dulu. Tujuannya agar situasi tetap nyaman. Ada banyak orang yang bukan biasanya di sekitar, mungkin dapat membuat putra kami tidak nyaman. Bila ditambah dengan melanjutkan proses sapih, takut dia akan rewel dan kami juga stres.
Benar saja. Dia yang sudah terbiasa tidak menyusu di mobil, waktu itu sempat rewel. Saat itu kami sedang pergi bersama-sama. Jadi, kondisi mobil cukup penuh. Tidak seperti biasanya yang hanya saya, dia, dan ayahnya.
Saya tahu waktu itu jam tidur siangnya agak tertunda. Dia sudah tampak sangat mengantuk. Hingga akhirnya dia menangis. Menangis sangat keras dan cukup lama. Bisa dikatakan bahwa ini tangisannya yang paling heboh selama proses menyapih. Sudah lama menangis dalam pelukan saya pun dia tak kunjung tenang. Sedih rasanya melihat dia berjuang. Saya tetap memeluk dan menenangkan. Akhirnya, dia tertidur juga. Lega rasanya. Saya pun semakin yakin memutuskan untuk tidak lanjut ke level selanjutnya dahulu hingga situasi kondusif dan nyaman bagi buah hati.
Kadang sedih kalau ada orang yang menyepelekan proses menyapih. Menganggapnya hal mudah. Hanya menghentikan ASI. Padahal prosesnya butuh hati. Butuh saling pengertian antara sang anak dan orang sekitarnya.
Setelah situasi nyaman dan terkendali, proses menyapih berlanjut ke level berikutnya. Saat di rumah, anak kami tetap boleh menyusu pada jam tidur. Namun, di luar jam tidur hanya boleh menyusu satu kali.
Alhamdulillah, dia cepat mengerti. Hari pertama langsung berjalan lancar. Setelah beberapa hari langsung lanjut lagi ke level selanjutnya, yaitu hanya menyusu saat jam tidur. Apakah dia bisa? Kita lanjutkan di tulisan selanjutnya, yaitu Menyapih dengan Rela (Part 3).
Hari ketiga, dia sudah mengerti bahwa tidak ada lagi menyusu di mobil. Dia meminum susu UHT atau melakukan hal lain. Yang jelas dia sudah tahu bahwa di mobil tidak minum ASI lagi.
Bagaimana bila perjalanannya cukup jauh? Alhamdulillah, dia tetap mengerti. Sebelum mulai proses sapih dia selalu meminta ASI saat akan tidur di mobil. Kini tidak lagi. Dia hanya minta untuk dipeluk, lalu akan tertidur begitu saja di perjalanan.
Alhamdulillah, artinya tahap pertama sudah terlalui. Sudah ada peningkatan dalam proses menyapih ini. Semua lancar. Rencananya setelah seminggu tahap pertama ini, kami baru akan lanjut ke tahap berikutnya.
Ketika akan lanjut ke tahap berikutnya, ternyata beberapa sanak saudara datang menginap beberapa hari di rumah. Akhirnya, kami memutuskan untuk tidak naik level dulu. Tujuannya agar situasi tetap nyaman. Ada banyak orang yang bukan biasanya di sekitar, mungkin dapat membuat putra kami tidak nyaman. Bila ditambah dengan melanjutkan proses sapih, takut dia akan rewel dan kami juga stres.
Benar saja. Dia yang sudah terbiasa tidak menyusu di mobil, waktu itu sempat rewel. Saat itu kami sedang pergi bersama-sama. Jadi, kondisi mobil cukup penuh. Tidak seperti biasanya yang hanya saya, dia, dan ayahnya.
Saya tahu waktu itu jam tidur siangnya agak tertunda. Dia sudah tampak sangat mengantuk. Hingga akhirnya dia menangis. Menangis sangat keras dan cukup lama. Bisa dikatakan bahwa ini tangisannya yang paling heboh selama proses menyapih. Sudah lama menangis dalam pelukan saya pun dia tak kunjung tenang. Sedih rasanya melihat dia berjuang. Saya tetap memeluk dan menenangkan. Akhirnya, dia tertidur juga. Lega rasanya. Saya pun semakin yakin memutuskan untuk tidak lanjut ke level selanjutnya dahulu hingga situasi kondusif dan nyaman bagi buah hati.
Kadang sedih kalau ada orang yang menyepelekan proses menyapih. Menganggapnya hal mudah. Hanya menghentikan ASI. Padahal prosesnya butuh hati. Butuh saling pengertian antara sang anak dan orang sekitarnya.
Setelah situasi nyaman dan terkendali, proses menyapih berlanjut ke level berikutnya. Saat di rumah, anak kami tetap boleh menyusu pada jam tidur. Namun, di luar jam tidur hanya boleh menyusu satu kali.
Alhamdulillah, dia cepat mengerti. Hari pertama langsung berjalan lancar. Setelah beberapa hari langsung lanjut lagi ke level selanjutnya, yaitu hanya menyusu saat jam tidur. Apakah dia bisa? Kita lanjutkan di tulisan selanjutnya, yaitu Menyapih dengan Rela (Part 3).
Jumat, 25 Oktober 2019
Menyapih dengan Rela
Salam hangat untuk Bukibuk di
mana pun berada. Apa kabar? Sehat? Semoga selalu semangat mengahadapi hari ya.
Tulisan kali ini akan berisi
pengalaman saya saat menyapih. Sekadar ingin berbagi cerita, bukan menggurui.
Sebab, dulu sebelum memulai proses tersebut, kata menyapih terdengar cukup
mendebarkan. Apalagi saya merupakan seorang ibu rumah tangga yang sepanjang
hari hanya berdua dengan anak. Suami berangkat pagi dan pulang malam dari senin
sampai jumat. Sempat khawatir tentang cara mengalihkan perhatian anak bila tiba
saatnya untuk menyapih.
Anak saya menyusu secara
langsung. Tidak mengenal dot. ASI eksklusif selama enam bulan. Setelah itu
tetap melanjutkan ASI yang rencananya sampai usia sekitar 2 tahun. Tidak ada
target harus 2 tahun persis. Yang diinginkan hanya saya dan dia dapat menghentikan
ASI dengan nyaman.
Mulai usianya 1 tahun, saya sudah
mulai mencari tahu tentang cara menyapih. Dari semua tulisan yang dibaca,
semuan menunjukkan bahwa penting untuk sounding
kepada anak bahwa pada usia 2 tahun dia tidak minum ASI lagi. Oke, akhirnya
saya memutuskan untuk menerapkan. Sejak umur 1 tahun lebih saya sudah berkata
padanya bahwa ASI itu hanya sampai 2 tahun. Yang saya katakan adalah bahwa pada
usia itu dia sudah tidak membutuhkannya lagi dan ASI juga sudah semakin
sedikit. Memang demikian kenyataannya.
Sebenarnya menjelang usianya 2
tahun pun saya masih ragu tentang proses menyapihnya kelak jika saat itu tiba.
Hingga beberapa hari menjelang ulang tahunnya, ASI saya terasa sudah semakin
sedikit. Dia yang biasanya saat akan tidur malam selalu menikmati ASI dan
langsung tertidur, saat itu tak lagi demikian. Sebelum tidur dia menyusu pada
salah satu PD, tetapi hanya sebentar rasanya sudah kembali kosong dan dia pun
belum tertidur. Dia meminta sisi yang satu lagi, begitu pula yang terjadi. Dia
meminta kembali sisi sebelumnya yang sudah mulai terisi ASI. Sayang hanya
sesaat sudah habis lagi dan dia masih belum kunjung tertidur. Akhirnya dia menangis dan minta digendong.
Saat hal tersebut terjadi bantuan
suami benar-benar dibutuhkan. Saya yang sudah mulai kelelahan dan pegal di
seluruh tubuh tak lagi kuat menggendongnya. Akhirnya, Selama beberapa hari
tersebut suami yang membantu membuatnya terlelap dalam gendongan. Itu membuat
saya yakin bahwa waktu untuk menyapih tiba. Kami hanya perlu bersabar selama
beberapa hari untuk menunggu hari ulang tahunnya. Untuk mempermudah agar dia
tahu usianya sudah menginjak 2 tahun, kami membuat acara tiup lilin. Hanya di antara kami
saja, sekadar memberi tanda bahwa usianya sudah 2 tahun.
Hari yang ditunggu tiba. Dia
sangat gembira saat meniup lilin di atas sebuah puding. Berulang kali lilin
dinyalakan dan ditiupnya lagi sampai semua mati. Dilanjutkan dengan membuka beberapa
kado. Malam menjelang tidur, kami kembali menjelaskan bahwa sebentar lagi
proses menyapih dimulai. Namun, kami juga berkata bahwa dia tidak perlu khawatir
karena pasti bisa. Kami juga berusaha untuk membantu agar prosesnya lebih
nyaman.
Keesokannya, proses dimulai.
Tidak langsung menghentikan ASI. Tahap pertama yang saya lakukan waktu itu
adalah menghentikan menyusui di dalam mobil dan mengenalkannya dengan susu UHT.
Mengapa? Sebab, biasanya dia lebih sering menyusu saat di dalam mobil. Walau
perjalanan dekat, dia tetap menyempatkan untuk menyusu. Apalagi saat perjalanan
jauh, bisa sampai berkali-kali. Ditambah saat macet dan perjalanan mulai
membosankan. Pasti dia langsung meminta.
Kami sering keluar setelah suami
pulang kerja. Hanya dekat dengan rumah, entah untuk membeli makan atau ke mini
market. Biasanya saat perjalanan pulang dia pasti menyusu. Kami memulai proses
dari situ. Kami berkata bahwa kita sudah memulai prosesnya. Tahap pertama tidak
menyusu di dalam mobil. Hari pertama berjalan lancar. Dia tidak menyusu pada
saya dan menggantinya dengan minum susu UHT. Alhamdulillah, semua sesuai dengan apa yang diharapkan.
Bagaimana dengan hari-hari berikutnya? Saya sambung di tulisan selanjutnya ya, agar tidak terlalu
panjang. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat. Untuk tahu kelanjutannya bisa
berlanjut ke tulisan berikutnya, yaitu Menyapih dengan Rela (Part 2).
Tetap semangat Bukibuk.
Selasa, 23 Juli 2019
Melatih Anak Minum dengan Sedotan
Bagi orang dewasa minum menggunakan sedotan merupakan hal mudah. Siapa sangka mengajarkannya pada anak tidak semudah yang dibayangkan.
Mungkin memang ada anak yang saat diberi minum dengan sedotan langsung bisa dalam sekali coba. Namun, tidak semua anak demikian. Anak saya termasuk salah satunya.
Di era media sosial ini, ada banyak kisah tentang anak-anak yang dapat diperoleh dengan mudah. Orang tua senang membagi kisah tentang buah hatinya. Misalnya melalui instagram. Saat melihat ada banyak anak yang dengan mudahnya minum melalui sedotan beberapa waktu setelah mulai masa MPASI, saya pun optimis. Yakin bahwa anak saya juga bisa.
Ternyata kenyataannya tidak demikian. Sudah berbulan-bulan MPASI, tetapi buah hati saya tetap belum dapat minum melalui sedotan. Awalnya saya harus menyendokkan minumannya. Beberapa lama kemudian dia bisa minum sedikit demi sedikit dengan gelas. Namun, tetap saja belum bisa menggunakan sedotan.
Beberapa cara sudah dicoba. Pertama, mengisi sedotan yang ditutup ujungnya dengan air putih, lalu meneteskannya pada anak agar dia paham sedotan itu untuk minum. Namun, cara itu gagal. Kedua, menggunakan cara yang sama, tetapi air putih diganti dengan jus agar anak tertarik. Masih gagal juga. Ketiga, minum dengan minuman yang sama persis di hadapan anak dan menunjukkan cara untuk menyedot. Tetap belum berhasil.
Cara yang terakhir saya coba adalah menggunakan air mineral dalam kemasan gelas. Saya menusukkan sedotan ke dalamnya. Kemudian diberikan kepada anak sambil sedikit ditekan kemasannya. Otomatis air akan naik perlahan. Alhamdulillah berhasil. Ternyata itu bisa membuatnya paham bahwa sedotan itu untuk minum. Dia pun sangat antusias.
Setiap anak memang memiliki keunikan masing-masing. Tidak bisa disamakan. Saya juga yakin bahwa setiap ibu pasti diberi kemampuan oleh Allah untuk mengetahui apa yang terbaik untuk anaknya.
Selamat berproses bersama anak, Bukibuk di mana pun berada. Nikmati setiap perkembangannya. Tak perlu tergesa.
Mungkin memang ada anak yang saat diberi minum dengan sedotan langsung bisa dalam sekali coba. Namun, tidak semua anak demikian. Anak saya termasuk salah satunya.
Di era media sosial ini, ada banyak kisah tentang anak-anak yang dapat diperoleh dengan mudah. Orang tua senang membagi kisah tentang buah hatinya. Misalnya melalui instagram. Saat melihat ada banyak anak yang dengan mudahnya minum melalui sedotan beberapa waktu setelah mulai masa MPASI, saya pun optimis. Yakin bahwa anak saya juga bisa.
Ternyata kenyataannya tidak demikian. Sudah berbulan-bulan MPASI, tetapi buah hati saya tetap belum dapat minum melalui sedotan. Awalnya saya harus menyendokkan minumannya. Beberapa lama kemudian dia bisa minum sedikit demi sedikit dengan gelas. Namun, tetap saja belum bisa menggunakan sedotan.
Beberapa cara sudah dicoba. Pertama, mengisi sedotan yang ditutup ujungnya dengan air putih, lalu meneteskannya pada anak agar dia paham sedotan itu untuk minum. Namun, cara itu gagal. Kedua, menggunakan cara yang sama, tetapi air putih diganti dengan jus agar anak tertarik. Masih gagal juga. Ketiga, minum dengan minuman yang sama persis di hadapan anak dan menunjukkan cara untuk menyedot. Tetap belum berhasil.
Cara yang terakhir saya coba adalah menggunakan air mineral dalam kemasan gelas. Saya menusukkan sedotan ke dalamnya. Kemudian diberikan kepada anak sambil sedikit ditekan kemasannya. Otomatis air akan naik perlahan. Alhamdulillah berhasil. Ternyata itu bisa membuatnya paham bahwa sedotan itu untuk minum. Dia pun sangat antusias.
Setiap anak memang memiliki keunikan masing-masing. Tidak bisa disamakan. Saya juga yakin bahwa setiap ibu pasti diberi kemampuan oleh Allah untuk mengetahui apa yang terbaik untuk anaknya.
Selamat berproses bersama anak, Bukibuk di mana pun berada. Nikmati setiap perkembangannya. Tak perlu tergesa.
Jumat, 22 Juni 2018
Kolaborasi Ayah dan Ibu untuk Anak
Menjadi seorang ibu ternyata membuat saya memikirkan banyak hal. Semua itu demi masa depan anak tentunya. Salah satunya mengenai pola asuh terhadap anak. Setelah memiliki anak baru saya sadar bahwa sesungguhnya yang terbaik bagi anak adalah saat ayah dan ibunya dapat berkolaborasi dengan baik dalam mendidik.
Baru-baru ini ada yang viral di sosmed, yaitu tentang Azka (anak dari mas Deddy Corbuzier dan mbak Kalina Oktarani) yang menjadi lulusan terbaik. Saya ikut senang pastinya. Ikut merasakan haru yang dirasakan oleh orang tua Azka. Saya juga salut pada orang tua Azka yang tetap dapat berkolaborasi dengan baik untuk Azka. Mungkin itu merupakan salah satu hal penting yang memiliki andil besar sehingga putra mereka tetap dapat mengukir prestasi yang sangat memuaskan.
Saya juga teringat momen pendaftaran SMA. Saat itu kedua orang tua saya mengantar untuk mendaftar di SMA yang merupakan pilihan saya, sebuah SMA negeri yang mulai menerapkan bilingual. Saya pun membaca setiap pengumuman yang terpajang di sana, lalu mama menghampiri dan berkata "Mbak, yakin mau masuk sini? Bahasa Inggris semua gini, yakin nantinya kamu bisa ngikutin pelajarannya?". Saya menjawab "Yakin ma, insyaallah bisa". Kemudian ayah saya menghampiri dan sepertinya mendengar sebagian percakapan kami lalu berkata "Bisa dong ya mbak, bahasa inggris mudah kan ya, haha". Dari perkataan kedua orang tua saya itu, saya pun akhirnya tahu bahwa saya tetap harus percaya diri tetapi harus tetap waspada dengan kendala yang kemungkinan akan dihadapi.
Sekarang saya mengalaminya sendiri. Saya memiliki seorang anak yang usianya belum ada 1 tahun. Waktu itu kami mendampingi dia bermain dengan para sepupunya. Mereka bermain bola. Ayahnya pun mengajarkan untuk menendang bola dan dia pun bisa. Namun, beberapa hari kemudian tampak efek lainnya. Dia tidak hanya menendang bola. Barang-barang ditendanginya, sampai-sampai keranjang yang berisi peralatan mandinya pun juga ditendangi hingga berserakan. Tentu ini cukup menguji kesabaran. Tetapi saya sadar, di sinilah dia membutuhkan peran saya sebagai ibu, menunjukkan padanya bahwa tidak semua barang itu untuk ditendang. Menunjukkan mana yang dapat ditendang, mana yang tetap harus dipegang menggunakan tangan.
Ternyata tugas untuk menjadi orang tua tidak sesederhana mengajak anak bermain. Tugas ini membutuhkan tanggung jawab. Dibutuhkan kolaborasi dua sosok penting di sini, ayah dan ibu.
Baru-baru ini ada yang viral di sosmed, yaitu tentang Azka (anak dari mas Deddy Corbuzier dan mbak Kalina Oktarani) yang menjadi lulusan terbaik. Saya ikut senang pastinya. Ikut merasakan haru yang dirasakan oleh orang tua Azka. Saya juga salut pada orang tua Azka yang tetap dapat berkolaborasi dengan baik untuk Azka. Mungkin itu merupakan salah satu hal penting yang memiliki andil besar sehingga putra mereka tetap dapat mengukir prestasi yang sangat memuaskan.
Saya juga teringat momen pendaftaran SMA. Saat itu kedua orang tua saya mengantar untuk mendaftar di SMA yang merupakan pilihan saya, sebuah SMA negeri yang mulai menerapkan bilingual. Saya pun membaca setiap pengumuman yang terpajang di sana, lalu mama menghampiri dan berkata "Mbak, yakin mau masuk sini? Bahasa Inggris semua gini, yakin nantinya kamu bisa ngikutin pelajarannya?". Saya menjawab "Yakin ma, insyaallah bisa". Kemudian ayah saya menghampiri dan sepertinya mendengar sebagian percakapan kami lalu berkata "Bisa dong ya mbak, bahasa inggris mudah kan ya, haha". Dari perkataan kedua orang tua saya itu, saya pun akhirnya tahu bahwa saya tetap harus percaya diri tetapi harus tetap waspada dengan kendala yang kemungkinan akan dihadapi.
Sekarang saya mengalaminya sendiri. Saya memiliki seorang anak yang usianya belum ada 1 tahun. Waktu itu kami mendampingi dia bermain dengan para sepupunya. Mereka bermain bola. Ayahnya pun mengajarkan untuk menendang bola dan dia pun bisa. Namun, beberapa hari kemudian tampak efek lainnya. Dia tidak hanya menendang bola. Barang-barang ditendanginya, sampai-sampai keranjang yang berisi peralatan mandinya pun juga ditendangi hingga berserakan. Tentu ini cukup menguji kesabaran. Tetapi saya sadar, di sinilah dia membutuhkan peran saya sebagai ibu, menunjukkan padanya bahwa tidak semua barang itu untuk ditendang. Menunjukkan mana yang dapat ditendang, mana yang tetap harus dipegang menggunakan tangan.
Ternyata tugas untuk menjadi orang tua tidak sesederhana mengajak anak bermain. Tugas ini membutuhkan tanggung jawab. Dibutuhkan kolaborasi dua sosok penting di sini, ayah dan ibu.
Minggu, 11 Februari 2018
Tentang Bayi (Orang Awam vs Dokter Spesialis Anak)
Salam kenal para Ibu baru. Bagaimana kondisi hari ini? Apakah mood masih terkontrol? Semoga selalu bahagia ya menghadapi hari-hari agar ASI lancar dan bayi tenang.
Bagaimana dengan hari yang sudah terlalui, lancar atau ada cobaan? Cobaan menghadapi kata orang-orang di luar sana? Hehe, tenang, calm down, relax. Tidak perlu dirisaukan apa kata orang-orang di luar sana, yang penting sudah melakukan hal yang diyakini benar dan memang ada dasarnya bahwa itulah yang tepat.
Nah, di tulisan kali ini saya akan menjabarkan apa kata orang awam dan apa kata dokter spesialis anak. Beruntungnya saya waktu itu membawa anak untuk imunisasi di dokter anak dekat rumah yang kebetulan memang dokternya cakap, baik, tidak membuat panik, dan mau untuk menjelaskan setiap hal yang penting. Akan saya tulis di sini apa saja yang beliau jelaskan.
1. Kaki bayi berbentuk O
Orang awam: "Aduh itu kakinya bentuk O, harus dibedong yang kuat ya biar kakinya lurus."
Dokter: "Ibu, jangan heran ya kalau kaki bayi berbentuk O, memang begitu. Tidak perlu dibedong kuat-kuat, itu justru tidak baik. Dibedong boleh saja, asal jangan kencang."
2. Bayi kuning
Orang awam: "Loh itu bayinya kuning, harus rajin dijemur sinar matahari pagi tuh."
Dokter: "Bayi kuning itu bukan karna kurang sinar matahari pagi lho Bu. Kalau gara-gara kurang sinar pagi ya bayi yang lahir di musim hujan pasti kuning. Obat utama bayi kuning itu ASI. Bayi mimik ASI nya cukup pasti kuningnya langsung membaik dan hilang."
3. Napas bayi bunyi "Grak grok" dan bayi bersin-bersin
Orang awam: "Kok napasnya bunyi gitu, bersin-bersin juga, pilek tuh bayinya."
Dokter: "Napas bayi baru lahir sampai beberapa bulan memang masih bunyi grak grok dan juga bersin-bersin. Itu wajar, bukan sakit."
4. Pemakaian gurita
Orang awam: "Ih bayinya enggak pakai gurita, ntar perutnya buncit lho."
Dokter: "Ibu, kalau lagi ke dokter lain jangan pakai gurita ya bayinya. Kasian takutnya Ibunya jadi dimarahin dokter. Kalau ke saya gak papa pakai gurita asal jangan terlalu kencang, kasian bayinya kalau terlalu kencang. Sebenarnya itu fungsinya hanya agar bayi lebih hangat saja. Tidak ada fungsi lainnya."
5. Bayi mudah kaget
Orang awam: "Kok gampang kaget ya bayinya, dikasih itu deh (menyebutkan sesuatu) biar ilang kagetannya."
Dokter: "Bu, jangan heran ya kalau bayinya kagetan. Bayi memang begitu. Itu bukan suatu masalah. Memang sewajarnya ya seperti itu."
6. Ibu menyusui tidak boleh makan pedas
Orang awam: "Kok makan pedas sih, nanti bayinya mencret loh."
Dokter: "Tidak ada pantangan makanan untuk ibu menyusui. Makan pedas juga tidak masalah. Saya masih belum bisa menghubungkan antara ibunya makan pedas dan bayinya mencret. Tidak mungkin juga ibunya minum es lalu bayinya jadi pilek. Apa mungkin ilmu saya yang masih kurang tinggi ya, haha."
7. Bayi keluar kotoran mata
Orang awam: "Kok ada kotoran matanya lagi, belekan ya itu bayinya?"
Dokter: "Jangan heran kalau bayi keluar kotoran matanya. Memang begitu, itu bukan belekan ya."
8. Bayi sering cegukan
Orang awam: "Aduh itu kok bayinya cegukan, kasian."
Dokter: "Bayi baru lahir hingga beberapa bulan itu memang sering cegukan, jangan khawatir ya Bu."
9. Gumoh
Orang awam: "Kok bayinya gumoh lagi, masuk angin mungkin tuh."
Dokter: "Bayi gumoh itu memang wajar ya Bu. Bukan masuk angin lho itu."
10. Bayi keluar bintik merah di pipi
Orang awam: "Bintik-bintik merah tuh di pipinya, makannya jangan sampai ketetesan ASI."
Dokter: "Bu, bayi baru lahir itu sering memang keluar bintik merah di pipinya. Itu biasanya biang keringat, bukan karna ketetesan ASI."
11. Bayi BAB berkali-kali dalam sehari
Orang awam: "Kok bayinya BAB lagi, diare tuh bayinya."
Dokter: "Bayi ASI eksklusif itu memang BAB nya sering Bu. Malah bisa sampai 10 kali dalam sehari. Semakin sering menyusu, semakin sering BAB."
12. Bayi tidak BAB berhari-hari
Orang awam: "Beberapa hari gak BAB? Sembelit tuh bayinya."
Dokter: "Bayi ASI eksklusif itu sehari bisa BAB berkali-kali. Tapi jangan heran juga kalau kadang gak BAB berhari-hari. Kalau sampai 10 hari periksakan ya."
13. Menyusui sambil tiduran
Orang awam: "Kalau anak udah bisa duduk itu gak boleh nyusu sambil tiduran, bisa tersedak. Menyusu sambil tiduran juga bahaya, kalau Ibunya tertidur bisa menimpa bayi."
Dokter: "Bu, kalau menyusui lebih enak sambil tiduran saja. Masih banyak yang harus dilakukan, jangan sampai Ibu kelelahan karena posisi menyusui yang tidak nyaman. Menyusui sambil tiduran itu tidak membuat tersedak. Juga tidak mungkin Ibunya tertidur sampai menimpa bayi."
Itulah beberapa hal penting yang ternyata berbeda antara apa kata orang awam dan kata dokter spesialis anak. Pasti tahu kan ya mana yang lebih benar dan bisa dijadikan pedoman. Itu semua benar-benar apa yang dikatakan dokter tersebut dan beliau mengatakannya tanpa saya mengatakan pada beliau tentang apa kata orang awam. Jadi beliau memang sudah paham betul opini apa yang beredar di masyarakat.
Ada satu hal lagi yang penting. Beliau juga mengatakan "Mengurus bayi dari generasi ke generasi itu berbeda ya Bu. Jadi jangan samakan bagaimana mengurus bayi jaman dulu dengan jaman sekarang. Mengurus bayi di masa yang akan datang juga mungkin akan berbeda lagi."
Terima kasih dokter untuk semua penjelasannya. Saya tidak perlu bertanya pun sudah dijelaskan dengan detail. Saya merasa seperti mengikuti seminar singkat waktu itu. Terima kasih banyak dokter sudah meluangkan waktu untuk menjelaskan.
Berbeda dokter mungkin saja ada pendapat yang tidak sama, tetapi melalui tulisan ini setidaknya tergambarkan perbedaan antara apa kata orang awam dan kata dokter spesialis anak. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk para Ibu baru. Jangan patah semangat. Opini masyarakat belum tentu benar. Jaga mood agar selalu bahagia ya.
Bagaimana dengan hari yang sudah terlalui, lancar atau ada cobaan? Cobaan menghadapi kata orang-orang di luar sana? Hehe, tenang, calm down, relax. Tidak perlu dirisaukan apa kata orang-orang di luar sana, yang penting sudah melakukan hal yang diyakini benar dan memang ada dasarnya bahwa itulah yang tepat.
Nah, di tulisan kali ini saya akan menjabarkan apa kata orang awam dan apa kata dokter spesialis anak. Beruntungnya saya waktu itu membawa anak untuk imunisasi di dokter anak dekat rumah yang kebetulan memang dokternya cakap, baik, tidak membuat panik, dan mau untuk menjelaskan setiap hal yang penting. Akan saya tulis di sini apa saja yang beliau jelaskan.
1. Kaki bayi berbentuk O
Orang awam: "Aduh itu kakinya bentuk O, harus dibedong yang kuat ya biar kakinya lurus."
Dokter: "Ibu, jangan heran ya kalau kaki bayi berbentuk O, memang begitu. Tidak perlu dibedong kuat-kuat, itu justru tidak baik. Dibedong boleh saja, asal jangan kencang."
2. Bayi kuning
Orang awam: "Loh itu bayinya kuning, harus rajin dijemur sinar matahari pagi tuh."
Dokter: "Bayi kuning itu bukan karna kurang sinar matahari pagi lho Bu. Kalau gara-gara kurang sinar pagi ya bayi yang lahir di musim hujan pasti kuning. Obat utama bayi kuning itu ASI. Bayi mimik ASI nya cukup pasti kuningnya langsung membaik dan hilang."
3. Napas bayi bunyi "Grak grok" dan bayi bersin-bersin
Orang awam: "Kok napasnya bunyi gitu, bersin-bersin juga, pilek tuh bayinya."
Dokter: "Napas bayi baru lahir sampai beberapa bulan memang masih bunyi grak grok dan juga bersin-bersin. Itu wajar, bukan sakit."
4. Pemakaian gurita
Orang awam: "Ih bayinya enggak pakai gurita, ntar perutnya buncit lho."
Dokter: "Ibu, kalau lagi ke dokter lain jangan pakai gurita ya bayinya. Kasian takutnya Ibunya jadi dimarahin dokter. Kalau ke saya gak papa pakai gurita asal jangan terlalu kencang, kasian bayinya kalau terlalu kencang. Sebenarnya itu fungsinya hanya agar bayi lebih hangat saja. Tidak ada fungsi lainnya."
5. Bayi mudah kaget
Orang awam: "Kok gampang kaget ya bayinya, dikasih itu deh (menyebutkan sesuatu) biar ilang kagetannya."
Dokter: "Bu, jangan heran ya kalau bayinya kagetan. Bayi memang begitu. Itu bukan suatu masalah. Memang sewajarnya ya seperti itu."
6. Ibu menyusui tidak boleh makan pedas
Orang awam: "Kok makan pedas sih, nanti bayinya mencret loh."
Dokter: "Tidak ada pantangan makanan untuk ibu menyusui. Makan pedas juga tidak masalah. Saya masih belum bisa menghubungkan antara ibunya makan pedas dan bayinya mencret. Tidak mungkin juga ibunya minum es lalu bayinya jadi pilek. Apa mungkin ilmu saya yang masih kurang tinggi ya, haha."
7. Bayi keluar kotoran mata
Orang awam: "Kok ada kotoran matanya lagi, belekan ya itu bayinya?"
Dokter: "Jangan heran kalau bayi keluar kotoran matanya. Memang begitu, itu bukan belekan ya."
8. Bayi sering cegukan
Orang awam: "Aduh itu kok bayinya cegukan, kasian."
Dokter: "Bayi baru lahir hingga beberapa bulan itu memang sering cegukan, jangan khawatir ya Bu."
9. Gumoh
Orang awam: "Kok bayinya gumoh lagi, masuk angin mungkin tuh."
Dokter: "Bayi gumoh itu memang wajar ya Bu. Bukan masuk angin lho itu."
10. Bayi keluar bintik merah di pipi
Orang awam: "Bintik-bintik merah tuh di pipinya, makannya jangan sampai ketetesan ASI."
Dokter: "Bu, bayi baru lahir itu sering memang keluar bintik merah di pipinya. Itu biasanya biang keringat, bukan karna ketetesan ASI."
11. Bayi BAB berkali-kali dalam sehari
Orang awam: "Kok bayinya BAB lagi, diare tuh bayinya."
Dokter: "Bayi ASI eksklusif itu memang BAB nya sering Bu. Malah bisa sampai 10 kali dalam sehari. Semakin sering menyusu, semakin sering BAB."
12. Bayi tidak BAB berhari-hari
Orang awam: "Beberapa hari gak BAB? Sembelit tuh bayinya."
Dokter: "Bayi ASI eksklusif itu sehari bisa BAB berkali-kali. Tapi jangan heran juga kalau kadang gak BAB berhari-hari. Kalau sampai 10 hari periksakan ya."
13. Menyusui sambil tiduran
Orang awam: "Kalau anak udah bisa duduk itu gak boleh nyusu sambil tiduran, bisa tersedak. Menyusu sambil tiduran juga bahaya, kalau Ibunya tertidur bisa menimpa bayi."
Dokter: "Bu, kalau menyusui lebih enak sambil tiduran saja. Masih banyak yang harus dilakukan, jangan sampai Ibu kelelahan karena posisi menyusui yang tidak nyaman. Menyusui sambil tiduran itu tidak membuat tersedak. Juga tidak mungkin Ibunya tertidur sampai menimpa bayi."
Itulah beberapa hal penting yang ternyata berbeda antara apa kata orang awam dan kata dokter spesialis anak. Pasti tahu kan ya mana yang lebih benar dan bisa dijadikan pedoman. Itu semua benar-benar apa yang dikatakan dokter tersebut dan beliau mengatakannya tanpa saya mengatakan pada beliau tentang apa kata orang awam. Jadi beliau memang sudah paham betul opini apa yang beredar di masyarakat.
Ada satu hal lagi yang penting. Beliau juga mengatakan "Mengurus bayi dari generasi ke generasi itu berbeda ya Bu. Jadi jangan samakan bagaimana mengurus bayi jaman dulu dengan jaman sekarang. Mengurus bayi di masa yang akan datang juga mungkin akan berbeda lagi."
Terima kasih dokter untuk semua penjelasannya. Saya tidak perlu bertanya pun sudah dijelaskan dengan detail. Saya merasa seperti mengikuti seminar singkat waktu itu. Terima kasih banyak dokter sudah meluangkan waktu untuk menjelaskan.
Berbeda dokter mungkin saja ada pendapat yang tidak sama, tetapi melalui tulisan ini setidaknya tergambarkan perbedaan antara apa kata orang awam dan kata dokter spesialis anak. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk para Ibu baru. Jangan patah semangat. Opini masyarakat belum tentu benar. Jaga mood agar selalu bahagia ya.
Selasa, 16 Januari 2018
Anak Kita Butuh Ibu yang Percaya Diri
Menjadi seorang Ibu tentunya suatu hal yang sangat
didambakan sebagian besar wanita. Saat waktu itu tiba tidak hanya bahagia yang
terasa, tetapi juga ada rasa haru di dalamnya. Namun, tidak hanya itu, ada juga
sebuah tanggung jawab besar yang menyertainya. Seorang manusia baru terlahir di
dunia, dia membutuhkan seorang Ibu untuk merawatnya, membesarkannya, juga
mendidiknya. Ada sebuah nyawa yang bersandar sepenuhnya kepada seorang Ibu.
Menangis, ya itulah caranya untuk berkomunikasi. Dengan
menangis dia dapat mengungkapkan bahwa dia lapar, mengantuk, ataupun tidak
nyaman. Menafsirkan tangisannya bukanlah hal yang mudah. Banyak orang yang
salah menafsirkan tangisannya, walaupun mereka yakin dan cukup pengalaman
sehingga merasa tahu betul arti tangisannya. Herannya, Ibu sang bayi lah yang biasanya
memiliki tafsiran lebih akurat tentang tangisan bayinya, meskipun dia hanyalah
seorang Ibu baru. Entah itu karena terbiasa, sekedar kebetulan, atau memang
anugerah dari Sang Pencipta.
Dalam memenuhi kebutuhan seorang bayi tentu saja banyak
masukan dari kanan kiri yang pastinya semua merasa bahwa pendapatnya tersebut
benar. Nah, di sinilah seorang Ibu
berperan besar. Ibu harus dapat mengambil keputusan dengan penuh keyakinan,
bukan hanya sekedar mengikuti kata orang. Seorang Ibu harus terus belajar. Semua
saran tidak dapat diterima begitu saja, tetapi harus disaring dan
dipertimbangkan dahulu. Perlu banyak mencari informasi, baik dari membaca,
bertanya pada dokter spesialis anak, maupun berbincang dengan sesama Ibu.
Bagaimana jika seorang Ibu sudah merasa bahwa keputusannya
benar dan sudah banyak referensi tetapi masih ada orang yang menganggap itu
salah? Tetaplah percaya diri. Itu kunci utamanya. Semua saran memang harus
didengarkan, tetapi tidak harus diterapkan. Bagaimana jika kita pada posisi
sebagai orang yang memberi saran? Berlapang hati merupakan suatu keharusan bila
saran tidak diterapkan, hargailah seorang Ibu yang sedang mengusahakan hal
terbaik untuk anaknya tersebut.
Saya pernah membaca di sosial media. Ada seorang Ibu yang
bercerita bahwa dia sedang mengusahakan ASI eksklusif tanpa makanan pendamping
apapun untuk bayinya hingga usia 6 bulan. Suatu hari bayinya menangis, sang Ibu
yakin penyebabnya bukanlah ASI yang kurang, tetapi orang di rumahnya
berpendapat bahwa bayi itu lapar dan harus diberi makanan (bukan ASI ataupun
susu formula). Parahnya saat sang Ibu mandi, bayi tersebut diberi makan pisang
oleh orang di rumah. Terkejutlah Ibu tersebut setelah selesai mandi dan
langsung menangis. Jika sang Ibu juga berencana memberi makanan pendamping tentu saja hal itu bukan masalah. Sayangnya, ada orang yang memutuskan suatu hal terhadap sang bayi tanpa menanyakannya kepada Ibu tersebut. Saya ikut sedih saat membaca cerita itu. Sebenarnya sang Ibu sudah yakin dan memiliki keteguhan hati, sayang ada pihak lain yang menggagalkan rencana baiknya.
Mengenai perbedaan pendapat, banyak juga pro kontra mengenai memberi MPASI untuk bayi
yaitu mana yang terbaik antara BLW (Baby
Led Weaning) dan spoon feeding, atau
justru kombinasi antara keduanya. Pemilihan menu spoon feeding pun juga ada perbedaan pendapat, antara diawali dengan menu tunggal atau langsung menu 4 bintang. Sebenarnya
hal tersebut tidak perlu dirisaukan. Yang terbaik bagi bayi adalah keyakinan
Ibunya dalam mengambil keputusan dan tentu saja harus dilandasi pengetahuan
yang cukup mengenai hal tersebut. Percaya diri dibutuhkan di sini. Jangan mudah
tumbang dengan perkataan orang. Your babies need you, Mom. Babies don’t care about BLW, spoon feeding, or another method. They just need to
know that you are there for taking care of them.
So, be confidence Mom 😊
Kamis, 09 November 2017
Makna dari “Pejuang ASI”
Awalnya saya tidak mengerti
mengapa ada istilah “Pejuang ASI” bagi ibu-ibu menyusui. Setahu saya menyusui
hanyalah sesuatu yang wajar setelah seorang ibu melahirkan. Namun, setelah
merasakan sendiri, tampaknya saya mulai paham mengapa muncul istilah tersebut.
Saya merupakan seorang ibu baru
yang baru saja melahirkan sekitar tiga setengah bulan yang lalu. Alhamdulillah
proses melahirkan secara normal berjalan lancar. Pada hari yang sama dengan
hari kelahiran anak pertama tersebut, ASI saya sudah keluar. It looks like everything’s smooth and
nothing’s wrong. Tapi ternyata tidak semudah itu. Pada hari ketiga saya dapat pulang dari rumah sakit. Hari pertama setelah pulang dari rumah sakit masih berjalan lancar. Hari
kedua, something happened. Anak saya
BAB tetapi tidak kunjung BAK. Setelah ditunggu lama, sangat lama barulah sang anak BAK dan itu hanya sedikit sekali. Dia pun sangat rewel. Saya mulai
panik, semakin panik, dan amat sangat panik. Saya berencana membawanya ke
dokter spesialis anak. Namun, dia sudah semakin rewel. Saya coba mengeluarkan
ASI untuk mengetahui seberapa banyak jumlahnya, dan ternyata amat sangat
sedikit. Akhirnya saya membuka segel susu formula yang dibawakan dari rumah
sakit. Dengan berat hati saya terpaksa harus membuat susu formula untuk diminumnya. Saya sampai menangis saat akan memutuskan hal tersebut. Ternyata
benar, anak minum cukup banyak, artinya ASI saya saat itu tidak memadai
untuk memenuhi kebutuhannya.
Saya masih tidak menerima kondisi
tersebut dan tetap berharap agar anak saya bisa full ASI. Saya pun berjuang, tentunya dengan bantuan orang-orang di
sekitar. Ibu saya setiap hari memasakkan sayur bayam, menu sehat, dan
selalu menyediakan buah. Suami membelikan susu, jamu kemasan paket
melahirkan, marning, dan edamame. Bahkan kakak ipar pun turut membantu
dengan setiap hari ke pasar lalu mengantarkan jamu wejah ke rumah. I’m so thankful to people around me. Setiap
hari saya harus melahap itu semua. Jamu sepahit itu pun tetap diminum. Obat dari dokter juga rutin saya konsumsi. Semua demi
menghasilkan ASI yang memadai untuk anak dan tidak boleh ada kata bosan untuk
sayur bayam serta makanan sehat.
Alhamdulillah, perjuangan
membuahkan hasil yang memuaskan. Setelah selama 2 hari minum susu formula,
akhirnya ASI sudah memadai. Saya mencoba memompa dan hasilnya sudah sama
dengan takaran susu formula yang diminum sesuai kebutuhan anak saya. Dia akhirnya dapat kembali menikmati ASI sepenuhnya, minuman paling nikmat di dunia
baginya. Beruntungnya anak saya tetap meminum ASI dengan lahap dan tidak
bingung puting walaupun sempat minum lewat botol selama 2 hari. Terima kasih
nak, pasti kamu sangat berjuang.
Tidak hanya itu saja. Saat usia
anak sekitar 3 bulan, dia batuk dan demam. Kondisi yang sedang tidak enak
tersebut membuatnya minum ASI lebih sedikit dari biasanya. Setelah sembuh,
keinginannya untuk minum sudah pulih lagi. Namun, produksi ASI saya justru
tidak sebanyak biasanya. Alhamdulillah, dia tetap semangat untuk menyusu kepada
saya. Mungkin daya hisapnya dengan sendirinya memulihkan produksi ASI, sehingga
produksi ASI saya pun kembali normal. Terima kasih nak untuk perjuanganmu.
Masih ada kisah lainnya. Waktu itu
saya juga pernah mengalami mood yang
sangat jelek. Tadinya saya tidak mengira bahwa itu akan berpengaruh pada
produksi ASI. Namun, saya benar-benar mengalami sendiri. Ternyata produksi ASI
saya menurun saat saya merasa sangat bad
mood. Akhirnya saya berusaha sebisa mungkin untuk menghindari bad mood. Beruntungnya, sang anak tetap semangat untuk menyusu dan ASI
saya produksinya dapat membaik dengan cepat. Alhamdulillah.
Sekitar usia anak tiga setengah
bulan ada lagi yang terjadi. Saya merasa bahwa produksi ASI
stabil, tetapi anehnya dia seperti sudah kehabisan ASI di pd kanan lalu
akhirnya saya pun melanjutkan ke pd yang kiri. Saya tekan memang pd kanan
ASInya sudah tidak keluar lagi. Padahal pd itu rasanya masih kencang di
sebagian sisi, terasa masih ada ASI di dalamnya. Rasanya pun sangat sakit.
Akhirnya setelah anak saya tidur, langsung saya melakukan kompres air hangat dan massage pd dengan baby oil. Setelah
anak saya menyusu lagi barulah terasa bahwa bagian yang tadi ASInya seperti
masih tertampung sudah mau kluar. Pd saya pun akhirnya normal kembali, tidak
terasa kencang dan sakit. Terima kasih nak sudah membantu perjuangan ini.
Sejak saat itu saya sadar bahwa
menyusui memang butuh perjuangan. Mungkin itulah yang membuat muncul istilah
pejuang ASI bagi ibu-ibu yang menyusui. Tetap semangat ya ibu-ibu untuk terus
dapat menyusui hingga anak usia 2 tahun.
Jangan lupa bahagia 😊
Langganan:
Postingan (Atom)
Menyapih dengan Rela (Last Part)
Langsung kita lanjutkan postingan sebelumnya, yaitu Menyapih dengan Rela (Part 3) . Sakit membuatnya jauh dari kata nyaman. Nafsu makan pun ...
-
Langsung kita lanjutkan postingan sebelumnya, yaitu Menyapih dengan Rela (Part 3) . Sakit membuatnya jauh dari kata nyaman. Nafsu makan pun ...
-
Selama masa kehamilan, selama beberapa bulan saya tinggal di Semarang dan beberapa bulan di Tangerang. Beruntungnya, di kedua kota tersebut...
-
Sekarang ini makan bukan cuma sekedar kebutuhan perut. Namun, juga menjadi kebutuhan lidah. Jadi tidak hanya asal kenyang, tetapi juga perlu...