Langsung kita lanjutkan postingan sebelumnya, yaitu Menyapih dengan Rela (Part 3). Sakit membuatnya jauh dari kata nyaman. Nafsu makan pun menurun drastis. Lebih sedihnya lagi, saat ingin makan pun, dia kesakitan saat menelan. Pusing. Saya benar-benar pusing.
Sempat terpikir untuk memberinya susu formula. Namun, dokter berkata bahwa itu tidak perlu. Mengingat usianya yang sudah dua tahun. Dokter berkata bahwa kebutuhan gizi yang dibutuhkan anak di atas dua tahun bukan lagi dari susu, melainkan dari makanan padat. Akhirnya, dokter menyarankan untuk minum susu formula hanya saat dia sakit saja. Untuk menghindari penurunan berat badan yang drastis karena kesulitan makan.
Ternyata anak saya menolak susu tersebut. Saya pun mencicipinya, ternyata rasanya sangat manis. Susu itu akhirnya terabaikan. Kalaupun dia mau, hanya satu atau dua teguk saja. Saya justru beryukur karena anak saya menolak minuman yang terlalu manis.
Menghadapi anak yang sedang sakit tentu butuh tenaga ekstra. Dia sering minta digendong agar tenang. Padahal, seharian ayahnya bekerja. Hanya ada kami berdua. Saya sadar bahwa saya tetap harus menjaga stamina agar tidak ikut sakit.
Tidurnya jauh dari kata lelap. Pasti terbangun. Akhirnya, bila dia terbangun saat saya harus istirahat, saya menyusuinya kembali hingga dia terlelap dan saya bisa ikut tidur sesaat. Setidaknya cukup untuk memelihara akal sehat saya. Ya, artinya saat itu menyapihnya mengalami kemunduran.
Itu saat tidur siang. Saat tidur malam, ayahnya membantu menggendong untuk membuatnya tenang dan tidur dengan nyaman. Butuh kerja sama di sini. Saat ayahnya menenangkan, saya yang tidur. Saat ayahnya tidur, saya yang menenangkan. Bila kami berdua tertidur dan dia menangis terbangun, maka saya menyusuinya lagi hingga tertidur.
Alhamdulillah, sekitar seminggu kondisinya membaik. Nafsu makannya mulai kembali. Hanya saja, tidurnya masih sering terbangun. Mungkin karena merasa terganggu dengan bintik merah di kaki yang mulai kering dan mengelupas.
Proses menyapih pun berlanjut lagi karena dia sudah tidak rewel sepanjang hari. Walaupun masih sering terbangun untuk menggaruk kakinya. Sempat khawatir, apakah dia mau tertidur lagi tanpa disusui. Ternyata bisa. Saya hanya menimangnya lagi di pangkuan saat dia terbangun. Dia pun melanjutkan tidurnya.
Akhirnya, anak saya total tidak minum ASI lagi. Apakah saya menyambungnya dengan susu formula? Tidak. Hanya susu UHT. Itu pun tidak banyak. Dokter berkata bahwa setelah anak usia dua tahun kebutuhan gizinya bukan dari susu lagi, tetapi makanan. Susu hanya sebagai pelengkap. Anak hanya mau minum susu sedikit pun tidak masalah. Beliau berkata bahwa belajar makan jauh lebih penting daripada terus-menerus menikmati susu saja.
Setelah proses menyapih berhasil, tampak bahwa yang utama dari proses menyapih adalah komunikasi dengan buah hati. Juga harus yakin bahwa dia memang mengerti. Percaya bahwa setiap hal ada waktunya masing-masing. Ada saat memulai, ada pula saat mengakhiri. Walau harus siap bila ternyata ada tantangan di luar dugaan. Misalnya, ternyata tiba-tiba anak sakit seperti yang saya hadapi. Saya yakin setiap ibu dan anak pasti dimampukan untuk melaluinya.
Jumat, 17 Juli 2020
Jumat, 17 April 2020
Menyapih dengan Rela (Part 3)
Yuk kita lanjutkan tulisan sebelumnya yang berjudul Menyapih dengan Rela (Part 2). Tahap selanjutnya hanya menyusu saat jam tidur. Baik tidur siang maupun tidur malam dia tetap boleh meminta ASI. Namun, di luar waktu tersebut sama sekali tidak boleh.
Hari pertama memulai level ini, dia sempat meminta ASI bukan pada jam tidur. Saya menolak dengan berkata bahwa menyusunya saat jam tidur saja. Syukurlah, dia langsung mengerti. Bahkan, tahap ini membuat dia rajin tidur siang. Mungkin karena ingin segera menikmati ASI-nya.
Tiga hari berjalan lancar tanpa kendala. Kami pun lanjut ke tingkat selanjutnya, yaitu tidak ada ASI saat terbangun ketika tidur siang. Kadang dia tidur siang dengan pulas tanpa terbangun. Namun, kadang juga terbangun dan meminta ASI. Nah, kini dia mulai belajar untuk tidak menyusu saat terbangun ketika tidur siang.
Hari pertama kebetulan dia tidur siang dengan pulas. Sayangnya, hari kedua tidak demikian. Dia terbangun. Kemudian saya hanya menimangnya dalam pangkuan. Alhamdulillah, dia tertidur lagi. Hari-hari selanjutnya juga demikian. Kadang dia pulas, tetapi bila terbangun sudah cukup ditenangkan dengan ditimang dalam pangkuan.
Tahap ini berlangsung beberapa hari. Setelah dia tampak terbiasa, kami berlanjut ke tahap selanjutnya, yaitu tidak menyusu saat terbangun di malam hari. Jujur, memulai tahap ini cukup mendebarkan bagi saya. Saya takut dia rewel tengah malam hingga tidak bisa tidur, yang artinya saya juga harus begadang.
Setiap akan naik level, saya selalu memberi tahunya terlebih dahulu. Termasuk saat akan memasuki tahap ini. Dia menjawab bahwa dia mengerti. Kebetulan memang sebelum umur 2 tahun dia sudah lancar berbicara.
Malam pertama untuk level ini pun berlangsung. Sebelum tidur dia berkata sudah paham bahwa dia tidak menyusu lagi bila terbangun tengah malam. Sayang, tengah malam dia menangis dan terbangun. Untungnya, saya belum mengantuk saat itu. Sehingga dapat berpikir jernih.
Dia terbangun, menangis dengan mata terpejam dan mencari ASI. Saya pun membangunkannya sekalian dan tangisnya langsung berhenti. Sebab, saya yakin dia tidak sepenuhnya sadar saat itu. Setelah itu matanya terbuka dan saya mengingatkan bahwa mulai malam itu sudah tidak bisa menyusu lagi bila terbangun. Dia mengangguk. Saya menimangnya dalam pangkuan. Dalam hitungan detik dia langsung terlelap kembali. Syukurlah, ini tidak sesulit yang dibayangkan.
Saya juga menyediakan air putih dalam botol di dekat kasur. Jadi, saat dia terbangun akan saya tanyakan dulu apakah dia haus dan ingin minum. Kadang dia ingin minum beberapa teguk, kadang tidak. Ini saran dokter. Khawatir kalau dia terbangun memang karena haus. Setelah itu, baru saya menimangnya di pangkuan.
Itu yang selalu saya lakukan jika dia terbangun di malam hari. Dia pun sudah tahu bahwa tak perlu lagi menyusu saat terbangun. Setelah seminggu, saya berlanjut ke tahap selanjutnya. Hanya menyusu satu kali sebelum tidur. Sebab, saat ASI saya sudah berkurang, kadang dia menyusu 2 atau bahkan 3 kali sebelum tidur. Jadi, kini dalam sehari saya akan menyusuinya dua kali saja. Satu kali sebelum tidur siang dan satu kali sebelum tidur malam.
Tahap ini ternyata mudah dimengerti olehnya. Dia sudah paham tentang yang dimaksud dengan satu kali. Jadi, bila menjelang tidur dia sudah menyusu satu kali, tetapi tetap belum bisa terlelap, maka saya hanya akan menimang dalam pangkuan untuk membantunya tidur. Itu yang saya lakukan baik saat tidur siang maupun malam.
Sayang, ketika mencapai fase ini, ada cobaan datang. Buah hati kami ini sakit. Tenggorokannya sangat sakit dan tidak nyaman untuk makan. Bahkan untuk minum juga. Jika dilihat, ada semacam sariawan dalam jumlah yang sangat banyak di tenggorokannya. Dia tetap ada keinginan untuk makan, tetapi ketika menelan dia merintih sakit hingga tidak sanggup melanjutkannya. Saya sangat cemas. Sedang disapih, tetapi tiba-tiba dia harus kesulitan makan dan minum. Tubuhnya demam. Muncul bintik merah menyerupai cacar air di kakinya. Paling banyak di telapak kaki. Kata dokter, penyakit ini disebabkan oleh virus coxsackie.
Apa yang saya lakukan? Apakah melanjutkan proses sapih? Ataukah menghentikannya? Atau justru mundur ke level sebelumnya? Saya lanjutkan di tulisan selanjutnya, yaitu Menyapih dengan Rela (Last Part)
Hari pertama memulai level ini, dia sempat meminta ASI bukan pada jam tidur. Saya menolak dengan berkata bahwa menyusunya saat jam tidur saja. Syukurlah, dia langsung mengerti. Bahkan, tahap ini membuat dia rajin tidur siang. Mungkin karena ingin segera menikmati ASI-nya.
Tiga hari berjalan lancar tanpa kendala. Kami pun lanjut ke tingkat selanjutnya, yaitu tidak ada ASI saat terbangun ketika tidur siang. Kadang dia tidur siang dengan pulas tanpa terbangun. Namun, kadang juga terbangun dan meminta ASI. Nah, kini dia mulai belajar untuk tidak menyusu saat terbangun ketika tidur siang.
Hari pertama kebetulan dia tidur siang dengan pulas. Sayangnya, hari kedua tidak demikian. Dia terbangun. Kemudian saya hanya menimangnya dalam pangkuan. Alhamdulillah, dia tertidur lagi. Hari-hari selanjutnya juga demikian. Kadang dia pulas, tetapi bila terbangun sudah cukup ditenangkan dengan ditimang dalam pangkuan.
Tahap ini berlangsung beberapa hari. Setelah dia tampak terbiasa, kami berlanjut ke tahap selanjutnya, yaitu tidak menyusu saat terbangun di malam hari. Jujur, memulai tahap ini cukup mendebarkan bagi saya. Saya takut dia rewel tengah malam hingga tidak bisa tidur, yang artinya saya juga harus begadang.
Setiap akan naik level, saya selalu memberi tahunya terlebih dahulu. Termasuk saat akan memasuki tahap ini. Dia menjawab bahwa dia mengerti. Kebetulan memang sebelum umur 2 tahun dia sudah lancar berbicara.
Malam pertama untuk level ini pun berlangsung. Sebelum tidur dia berkata sudah paham bahwa dia tidak menyusu lagi bila terbangun tengah malam. Sayang, tengah malam dia menangis dan terbangun. Untungnya, saya belum mengantuk saat itu. Sehingga dapat berpikir jernih.
Dia terbangun, menangis dengan mata terpejam dan mencari ASI. Saya pun membangunkannya sekalian dan tangisnya langsung berhenti. Sebab, saya yakin dia tidak sepenuhnya sadar saat itu. Setelah itu matanya terbuka dan saya mengingatkan bahwa mulai malam itu sudah tidak bisa menyusu lagi bila terbangun. Dia mengangguk. Saya menimangnya dalam pangkuan. Dalam hitungan detik dia langsung terlelap kembali. Syukurlah, ini tidak sesulit yang dibayangkan.
Saya juga menyediakan air putih dalam botol di dekat kasur. Jadi, saat dia terbangun akan saya tanyakan dulu apakah dia haus dan ingin minum. Kadang dia ingin minum beberapa teguk, kadang tidak. Ini saran dokter. Khawatir kalau dia terbangun memang karena haus. Setelah itu, baru saya menimangnya di pangkuan.
Itu yang selalu saya lakukan jika dia terbangun di malam hari. Dia pun sudah tahu bahwa tak perlu lagi menyusu saat terbangun. Setelah seminggu, saya berlanjut ke tahap selanjutnya. Hanya menyusu satu kali sebelum tidur. Sebab, saat ASI saya sudah berkurang, kadang dia menyusu 2 atau bahkan 3 kali sebelum tidur. Jadi, kini dalam sehari saya akan menyusuinya dua kali saja. Satu kali sebelum tidur siang dan satu kali sebelum tidur malam.
Tahap ini ternyata mudah dimengerti olehnya. Dia sudah paham tentang yang dimaksud dengan satu kali. Jadi, bila menjelang tidur dia sudah menyusu satu kali, tetapi tetap belum bisa terlelap, maka saya hanya akan menimang dalam pangkuan untuk membantunya tidur. Itu yang saya lakukan baik saat tidur siang maupun malam.
Sayang, ketika mencapai fase ini, ada cobaan datang. Buah hati kami ini sakit. Tenggorokannya sangat sakit dan tidak nyaman untuk makan. Bahkan untuk minum juga. Jika dilihat, ada semacam sariawan dalam jumlah yang sangat banyak di tenggorokannya. Dia tetap ada keinginan untuk makan, tetapi ketika menelan dia merintih sakit hingga tidak sanggup melanjutkannya. Saya sangat cemas. Sedang disapih, tetapi tiba-tiba dia harus kesulitan makan dan minum. Tubuhnya demam. Muncul bintik merah menyerupai cacar air di kakinya. Paling banyak di telapak kaki. Kata dokter, penyakit ini disebabkan oleh virus coxsackie.
Apa yang saya lakukan? Apakah melanjutkan proses sapih? Ataukah menghentikannya? Atau justru mundur ke level sebelumnya? Saya lanjutkan di tulisan selanjutnya, yaitu Menyapih dengan Rela (Last Part)
Jumat, 10 April 2020
Menyapih dengan Rela (Part 2)
Ini lanjutan dari Menyapih dengan Rela. Hari kedua, dia masih meminta ASI saat di mobil. Kami pun mengingatkan bahwa proses menyudahi ASI sudah dimulai dari tidak menyusu di mobil dan kemarin dia berhasil. Namun, ia tetap tidak mau meminum susu UHT-nya dan meminta ASI, lalu menangis. Beruntung, 5 menit kemudian kami sudah sampai di rumah. Dia pun teralihkan dengan bermain di rumah.
Hari ketiga, dia sudah mengerti bahwa tidak ada lagi menyusu di mobil. Dia meminum susu UHT atau melakukan hal lain. Yang jelas dia sudah tahu bahwa di mobil tidak minum ASI lagi.
Bagaimana bila perjalanannya cukup jauh? Alhamdulillah, dia tetap mengerti. Sebelum mulai proses sapih dia selalu meminta ASI saat akan tidur di mobil. Kini tidak lagi. Dia hanya minta untuk dipeluk, lalu akan tertidur begitu saja di perjalanan.
Alhamdulillah, artinya tahap pertama sudah terlalui. Sudah ada peningkatan dalam proses menyapih ini. Semua lancar. Rencananya setelah seminggu tahap pertama ini, kami baru akan lanjut ke tahap berikutnya.
Ketika akan lanjut ke tahap berikutnya, ternyata beberapa sanak saudara datang menginap beberapa hari di rumah. Akhirnya, kami memutuskan untuk tidak naik level dulu. Tujuannya agar situasi tetap nyaman. Ada banyak orang yang bukan biasanya di sekitar, mungkin dapat membuat putra kami tidak nyaman. Bila ditambah dengan melanjutkan proses sapih, takut dia akan rewel dan kami juga stres.
Benar saja. Dia yang sudah terbiasa tidak menyusu di mobil, waktu itu sempat rewel. Saat itu kami sedang pergi bersama-sama. Jadi, kondisi mobil cukup penuh. Tidak seperti biasanya yang hanya saya, dia, dan ayahnya.
Saya tahu waktu itu jam tidur siangnya agak tertunda. Dia sudah tampak sangat mengantuk. Hingga akhirnya dia menangis. Menangis sangat keras dan cukup lama. Bisa dikatakan bahwa ini tangisannya yang paling heboh selama proses menyapih. Sudah lama menangis dalam pelukan saya pun dia tak kunjung tenang. Sedih rasanya melihat dia berjuang. Saya tetap memeluk dan menenangkan. Akhirnya, dia tertidur juga. Lega rasanya. Saya pun semakin yakin memutuskan untuk tidak lanjut ke level selanjutnya dahulu hingga situasi kondusif dan nyaman bagi buah hati.
Kadang sedih kalau ada orang yang menyepelekan proses menyapih. Menganggapnya hal mudah. Hanya menghentikan ASI. Padahal prosesnya butuh hati. Butuh saling pengertian antara sang anak dan orang sekitarnya.
Setelah situasi nyaman dan terkendali, proses menyapih berlanjut ke level berikutnya. Saat di rumah, anak kami tetap boleh menyusu pada jam tidur. Namun, di luar jam tidur hanya boleh menyusu satu kali.
Alhamdulillah, dia cepat mengerti. Hari pertama langsung berjalan lancar. Setelah beberapa hari langsung lanjut lagi ke level selanjutnya, yaitu hanya menyusu saat jam tidur. Apakah dia bisa? Kita lanjutkan di tulisan selanjutnya, yaitu Menyapih dengan Rela (Part 3).
Hari ketiga, dia sudah mengerti bahwa tidak ada lagi menyusu di mobil. Dia meminum susu UHT atau melakukan hal lain. Yang jelas dia sudah tahu bahwa di mobil tidak minum ASI lagi.
Bagaimana bila perjalanannya cukup jauh? Alhamdulillah, dia tetap mengerti. Sebelum mulai proses sapih dia selalu meminta ASI saat akan tidur di mobil. Kini tidak lagi. Dia hanya minta untuk dipeluk, lalu akan tertidur begitu saja di perjalanan.
Alhamdulillah, artinya tahap pertama sudah terlalui. Sudah ada peningkatan dalam proses menyapih ini. Semua lancar. Rencananya setelah seminggu tahap pertama ini, kami baru akan lanjut ke tahap berikutnya.
Ketika akan lanjut ke tahap berikutnya, ternyata beberapa sanak saudara datang menginap beberapa hari di rumah. Akhirnya, kami memutuskan untuk tidak naik level dulu. Tujuannya agar situasi tetap nyaman. Ada banyak orang yang bukan biasanya di sekitar, mungkin dapat membuat putra kami tidak nyaman. Bila ditambah dengan melanjutkan proses sapih, takut dia akan rewel dan kami juga stres.
Benar saja. Dia yang sudah terbiasa tidak menyusu di mobil, waktu itu sempat rewel. Saat itu kami sedang pergi bersama-sama. Jadi, kondisi mobil cukup penuh. Tidak seperti biasanya yang hanya saya, dia, dan ayahnya.
Saya tahu waktu itu jam tidur siangnya agak tertunda. Dia sudah tampak sangat mengantuk. Hingga akhirnya dia menangis. Menangis sangat keras dan cukup lama. Bisa dikatakan bahwa ini tangisannya yang paling heboh selama proses menyapih. Sudah lama menangis dalam pelukan saya pun dia tak kunjung tenang. Sedih rasanya melihat dia berjuang. Saya tetap memeluk dan menenangkan. Akhirnya, dia tertidur juga. Lega rasanya. Saya pun semakin yakin memutuskan untuk tidak lanjut ke level selanjutnya dahulu hingga situasi kondusif dan nyaman bagi buah hati.
Kadang sedih kalau ada orang yang menyepelekan proses menyapih. Menganggapnya hal mudah. Hanya menghentikan ASI. Padahal prosesnya butuh hati. Butuh saling pengertian antara sang anak dan orang sekitarnya.
Setelah situasi nyaman dan terkendali, proses menyapih berlanjut ke level berikutnya. Saat di rumah, anak kami tetap boleh menyusu pada jam tidur. Namun, di luar jam tidur hanya boleh menyusu satu kali.
Alhamdulillah, dia cepat mengerti. Hari pertama langsung berjalan lancar. Setelah beberapa hari langsung lanjut lagi ke level selanjutnya, yaitu hanya menyusu saat jam tidur. Apakah dia bisa? Kita lanjutkan di tulisan selanjutnya, yaitu Menyapih dengan Rela (Part 3).
Selasa, 31 Maret 2020
Dilema Harus #dirumahaja
Saat ini aku adalah seorang ibu dengan satu anak berusia dua setengah tahun. Setiap senin hingga jumat suami kerja kantoran. Berangkat pagi dan pulangnya sudah malam.
#dirumahaja memang sudah keseharianku. Belanja untuk keperluan memasak setiap seminggu atau dua minggu sekali juga sudah biasa. Memang tidak ada tukang sayur lewat di sekitar rumah. Pedagang makanan juga tidak lewat.
Mungkin seharusnya tidak ada perubahan untuk menghadapi situasi seperti saat ini. Ketika kita semua harus melakukan social distancing dengan #dirumahaja untuk memperlambat penyebaran virus corona atau Covid-19. Namun, nyatanya aku tetap stres.
Mengapa? Beberapa hari yang lalu, aku terpaksa harus keluar untuk membeli beberapa keperluan yang habis. Tidak seperti biasanya, telur di minimarket dekat rumah habis. Air dalam kemasan galon sangat sulit dicari. Aku punya dua galon kosong, tetapi hanya berhasil membeli satu. Semua minimarket dekat rumah kehabisan. Aku juga melihat dagangan di tukang sayur sudah tak lengkap lagi. Sayuran yang ada pun banyak yang layu.
Bagaimana bisa tetap bertenang diri menghadapi semua itu? Aku masih bersyukur karena suami kerja kantoran dan digaji setiap bulan. Namun, terbayang nasib mereka para pedagang yang terpaksa harus tutup. Artinya, tidak ada penghasilan.
Pasti banyak yang tahu bahwa harga pangan metropolitan itu lebih mahal daripada daerah. Lantas bagaimana cara mereka bertahan?
Di satu sisi mereka tidak ingin pulang ke daerah asal karena takut bila ternyata membawa virus dalam tubuhnya. Di sisi lain, mereka juga tidak tahu kapan ini semua selesai. Apakah uang tabungan masih cukup untuk menghidupi diri dan keluarga sampai semua ini usai? Ataukah justru hidup mereka yang terpaksa harus berakhir?
Mereka pun terpaksa memilih untuk pulang kampung. Biaya hidup di sana jauh lebih murah. Namun, apakah mereka sanggup untuk mengisolasi diri selama 14 hari setelah kedatangannya?
Saat seorang kaya raya harus mengisolasi diri di dalam kamar, mungkin itu bisa saja dilakukan. Ada kamar mandi di dalam kamar. Makanan sudah disiapkan oleh asisten rumah tangga di depan pintu.
Bagaimana dengan kaum menengah ke bawah? Dapatkah melakukan itu? Satu kamar mandi biasanya digunakan bersama seisi rumah. Sulit juga bila harus berdiam diri di kamar tanpa kontak dengan orang rumah. Dia mungkin tidak keluar rumah. Akan tetapi, orang tuanya mungkin tiba-tiba perlu untuk keluar rumah saat sadar ternyata minyak goreng habis.
Bisa juga semua orang dalam rumah tersebut sudah mempersiapkan diri dengan baik tanpa ada apa pun yang kurang untuk hidup selama 14 hari. Namun, perantau yang pulang ke rumah langsung mencium tangan kedua orang tuanya saat datang. Bila ternyata tubuhnya membawa virus, bisa saja orang tuanya tertular.
Lelah rasanya memikirkan itu semua. Aku cuma manusia biasa yang hanya bisa berdoa kepada Sang Pemilik Semesta. Memohon agar semua ini segera berakhir dengan bahagia. Semoga pemerintah tidak salah dalam melangkah. Semoga kita dapat mengambil keputusan yang tepat, baik untuk diri, keluarga, dan seluruh penghuni dunia. Semoga dunia ini normal kembali seperti sedia kala. Aamiin.
#dirumahaja memang sudah keseharianku. Belanja untuk keperluan memasak setiap seminggu atau dua minggu sekali juga sudah biasa. Memang tidak ada tukang sayur lewat di sekitar rumah. Pedagang makanan juga tidak lewat.
Mungkin seharusnya tidak ada perubahan untuk menghadapi situasi seperti saat ini. Ketika kita semua harus melakukan social distancing dengan #dirumahaja untuk memperlambat penyebaran virus corona atau Covid-19. Namun, nyatanya aku tetap stres.
Mengapa? Beberapa hari yang lalu, aku terpaksa harus keluar untuk membeli beberapa keperluan yang habis. Tidak seperti biasanya, telur di minimarket dekat rumah habis. Air dalam kemasan galon sangat sulit dicari. Aku punya dua galon kosong, tetapi hanya berhasil membeli satu. Semua minimarket dekat rumah kehabisan. Aku juga melihat dagangan di tukang sayur sudah tak lengkap lagi. Sayuran yang ada pun banyak yang layu.
Bagaimana bisa tetap bertenang diri menghadapi semua itu? Aku masih bersyukur karena suami kerja kantoran dan digaji setiap bulan. Namun, terbayang nasib mereka para pedagang yang terpaksa harus tutup. Artinya, tidak ada penghasilan.
Pasti banyak yang tahu bahwa harga pangan metropolitan itu lebih mahal daripada daerah. Lantas bagaimana cara mereka bertahan?
Di satu sisi mereka tidak ingin pulang ke daerah asal karena takut bila ternyata membawa virus dalam tubuhnya. Di sisi lain, mereka juga tidak tahu kapan ini semua selesai. Apakah uang tabungan masih cukup untuk menghidupi diri dan keluarga sampai semua ini usai? Ataukah justru hidup mereka yang terpaksa harus berakhir?
Mereka pun terpaksa memilih untuk pulang kampung. Biaya hidup di sana jauh lebih murah. Namun, apakah mereka sanggup untuk mengisolasi diri selama 14 hari setelah kedatangannya?
Saat seorang kaya raya harus mengisolasi diri di dalam kamar, mungkin itu bisa saja dilakukan. Ada kamar mandi di dalam kamar. Makanan sudah disiapkan oleh asisten rumah tangga di depan pintu.
Bagaimana dengan kaum menengah ke bawah? Dapatkah melakukan itu? Satu kamar mandi biasanya digunakan bersama seisi rumah. Sulit juga bila harus berdiam diri di kamar tanpa kontak dengan orang rumah. Dia mungkin tidak keluar rumah. Akan tetapi, orang tuanya mungkin tiba-tiba perlu untuk keluar rumah saat sadar ternyata minyak goreng habis.
Bisa juga semua orang dalam rumah tersebut sudah mempersiapkan diri dengan baik tanpa ada apa pun yang kurang untuk hidup selama 14 hari. Namun, perantau yang pulang ke rumah langsung mencium tangan kedua orang tuanya saat datang. Bila ternyata tubuhnya membawa virus, bisa saja orang tuanya tertular.
Lelah rasanya memikirkan itu semua. Aku cuma manusia biasa yang hanya bisa berdoa kepada Sang Pemilik Semesta. Memohon agar semua ini segera berakhir dengan bahagia. Semoga pemerintah tidak salah dalam melangkah. Semoga kita dapat mengambil keputusan yang tepat, baik untuk diri, keluarga, dan seluruh penghuni dunia. Semoga dunia ini normal kembali seperti sedia kala. Aamiin.
Jumat, 25 Oktober 2019
Menyapih dengan Rela
Salam hangat untuk Bukibuk di
mana pun berada. Apa kabar? Sehat? Semoga selalu semangat mengahadapi hari ya.
Tulisan kali ini akan berisi
pengalaman saya saat menyapih. Sekadar ingin berbagi cerita, bukan menggurui.
Sebab, dulu sebelum memulai proses tersebut, kata menyapih terdengar cukup
mendebarkan. Apalagi saya merupakan seorang ibu rumah tangga yang sepanjang
hari hanya berdua dengan anak. Suami berangkat pagi dan pulang malam dari senin
sampai jumat. Sempat khawatir tentang cara mengalihkan perhatian anak bila tiba
saatnya untuk menyapih.
Anak saya menyusu secara
langsung. Tidak mengenal dot. ASI eksklusif selama enam bulan. Setelah itu
tetap melanjutkan ASI yang rencananya sampai usia sekitar 2 tahun. Tidak ada
target harus 2 tahun persis. Yang diinginkan hanya saya dan dia dapat menghentikan
ASI dengan nyaman.
Mulai usianya 1 tahun, saya sudah
mulai mencari tahu tentang cara menyapih. Dari semua tulisan yang dibaca,
semuan menunjukkan bahwa penting untuk sounding
kepada anak bahwa pada usia 2 tahun dia tidak minum ASI lagi. Oke, akhirnya
saya memutuskan untuk menerapkan. Sejak umur 1 tahun lebih saya sudah berkata
padanya bahwa ASI itu hanya sampai 2 tahun. Yang saya katakan adalah bahwa pada
usia itu dia sudah tidak membutuhkannya lagi dan ASI juga sudah semakin
sedikit. Memang demikian kenyataannya.
Sebenarnya menjelang usianya 2
tahun pun saya masih ragu tentang proses menyapihnya kelak jika saat itu tiba.
Hingga beberapa hari menjelang ulang tahunnya, ASI saya terasa sudah semakin
sedikit. Dia yang biasanya saat akan tidur malam selalu menikmati ASI dan
langsung tertidur, saat itu tak lagi demikian. Sebelum tidur dia menyusu pada
salah satu PD, tetapi hanya sebentar rasanya sudah kembali kosong dan dia pun
belum tertidur. Dia meminta sisi yang satu lagi, begitu pula yang terjadi. Dia
meminta kembali sisi sebelumnya yang sudah mulai terisi ASI. Sayang hanya
sesaat sudah habis lagi dan dia masih belum kunjung tertidur. Akhirnya dia menangis dan minta digendong.
Saat hal tersebut terjadi bantuan
suami benar-benar dibutuhkan. Saya yang sudah mulai kelelahan dan pegal di
seluruh tubuh tak lagi kuat menggendongnya. Akhirnya, Selama beberapa hari
tersebut suami yang membantu membuatnya terlelap dalam gendongan. Itu membuat
saya yakin bahwa waktu untuk menyapih tiba. Kami hanya perlu bersabar selama
beberapa hari untuk menunggu hari ulang tahunnya. Untuk mempermudah agar dia
tahu usianya sudah menginjak 2 tahun, kami membuat acara tiup lilin. Hanya di antara kami
saja, sekadar memberi tanda bahwa usianya sudah 2 tahun.
Hari yang ditunggu tiba. Dia
sangat gembira saat meniup lilin di atas sebuah puding. Berulang kali lilin
dinyalakan dan ditiupnya lagi sampai semua mati. Dilanjutkan dengan membuka beberapa
kado. Malam menjelang tidur, kami kembali menjelaskan bahwa sebentar lagi
proses menyapih dimulai. Namun, kami juga berkata bahwa dia tidak perlu khawatir
karena pasti bisa. Kami juga berusaha untuk membantu agar prosesnya lebih
nyaman.
Keesokannya, proses dimulai.
Tidak langsung menghentikan ASI. Tahap pertama yang saya lakukan waktu itu
adalah menghentikan menyusui di dalam mobil dan mengenalkannya dengan susu UHT.
Mengapa? Sebab, biasanya dia lebih sering menyusu saat di dalam mobil. Walau
perjalanan dekat, dia tetap menyempatkan untuk menyusu. Apalagi saat perjalanan
jauh, bisa sampai berkali-kali. Ditambah saat macet dan perjalanan mulai
membosankan. Pasti dia langsung meminta.
Kami sering keluar setelah suami
pulang kerja. Hanya dekat dengan rumah, entah untuk membeli makan atau ke mini
market. Biasanya saat perjalanan pulang dia pasti menyusu. Kami memulai proses
dari situ. Kami berkata bahwa kita sudah memulai prosesnya. Tahap pertama tidak
menyusu di dalam mobil. Hari pertama berjalan lancar. Dia tidak menyusu pada
saya dan menggantinya dengan minum susu UHT. Alhamdulillah, semua sesuai dengan apa yang diharapkan.
Bagaimana dengan hari-hari berikutnya? Saya sambung di tulisan selanjutnya ya, agar tidak terlalu
panjang. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat. Untuk tahu kelanjutannya bisa
berlanjut ke tulisan berikutnya, yaitu Menyapih dengan Rela (Part 2).
Tetap semangat Bukibuk.
Sabtu, 05 Oktober 2019
Berawal dari Pemula
Aku bukan J.K. Rowling, bukan pula Buya Hamka, ataupun Tere Liye. Yang mengenalku hanyalah keluarga dan teman-teman. Tidak seperti beberapa orang tersebut. Nama mereka sudah sangat dikenal banyak orang melalui tulisannya.
Awalnya ada rasa ragu saat melangkah memasuki dunia tulis-menulis. Sebuah dunia yang sebenarnya sudah memberiku bahagia sejak masih duduk di bangku sekolah. Namun, keraguan itu tak mampu menghentikan tanganku untuk tetap menulis.
Penulis yang sudah tenar memang memiliki banyak penggemar. Bagaimana dengan yang masih belum menyandang 'nama'? Semesta akan memandang sebelah mata padanya. Bahkan kegiatan membaca dan menulis pun masih dianggap aneh bagi kebanyakan orang.
Apalagi berbicara tentang materi. Menjual buku bagi pemula tidak semudah mereka yang namanya sudah terkenal. Para calon pembaca akan meragukan tulisan oleh seseorang yang tidak mereka ketahui. Selain itu, membeli buku masih tidak dianggap sebagai sebuah kebutuhan. Baju, kosmetik, tas, dan makanan kekinian jauh lebih menarik.
Lantas apa yang membuatku tetap menulis hingga kini? Terbayang dalam benakku jika semua pemula berhenti menulis. Apa yang akan terjadi pada dunia literasi? Punah? Lalu semua toko buku gulung tikar? Bukankah semua penulis terkenal berasal dari seorang pemula?
Menulis itu bukan untuk menghasilkan banyak uang. Menebar manfaat bagi semua pembacanya. Itulah inti dari kegiatan menulis. Hal tersebut memperkuat keyakinan untuk tetap menulis. Agar melalui tulisan, aku dapat membantu orang lain.
Terus berusaha supaya kualitas goresan penaku semakin meningkat. Berharap isi kepala dapat tertuang menjadi tulisan yang nyaman dibaca dan memberi manfaat. Salah satu caranya dengan #belajarmenulis bersama #nulisyuk secara online. Jujur, aku suka cara penyampaian materinya yang tertata rapi. Komunikasinya pun berjalan menyenangkan dengan tetap santun.
Sudah beberapa kali bergabung dalam kelas online-nya. Sekarang aku ikut dalam #nulisyukbatch37 yang sedang berjalan.
Harapanku, para pemula tak pernah putus asa. Juga tidak enggan untuk selalu belajar dan memperbaiki diri. Tetap semangat.
Salam hangat bagi semua pejuang aksara.
Awalnya ada rasa ragu saat melangkah memasuki dunia tulis-menulis. Sebuah dunia yang sebenarnya sudah memberiku bahagia sejak masih duduk di bangku sekolah. Namun, keraguan itu tak mampu menghentikan tanganku untuk tetap menulis.
Penulis yang sudah tenar memang memiliki banyak penggemar. Bagaimana dengan yang masih belum menyandang 'nama'? Semesta akan memandang sebelah mata padanya. Bahkan kegiatan membaca dan menulis pun masih dianggap aneh bagi kebanyakan orang.
Apalagi berbicara tentang materi. Menjual buku bagi pemula tidak semudah mereka yang namanya sudah terkenal. Para calon pembaca akan meragukan tulisan oleh seseorang yang tidak mereka ketahui. Selain itu, membeli buku masih tidak dianggap sebagai sebuah kebutuhan. Baju, kosmetik, tas, dan makanan kekinian jauh lebih menarik.
Lantas apa yang membuatku tetap menulis hingga kini? Terbayang dalam benakku jika semua pemula berhenti menulis. Apa yang akan terjadi pada dunia literasi? Punah? Lalu semua toko buku gulung tikar? Bukankah semua penulis terkenal berasal dari seorang pemula?
Menulis itu bukan untuk menghasilkan banyak uang. Menebar manfaat bagi semua pembacanya. Itulah inti dari kegiatan menulis. Hal tersebut memperkuat keyakinan untuk tetap menulis. Agar melalui tulisan, aku dapat membantu orang lain.
Terus berusaha supaya kualitas goresan penaku semakin meningkat. Berharap isi kepala dapat tertuang menjadi tulisan yang nyaman dibaca dan memberi manfaat. Salah satu caranya dengan #belajarmenulis bersama #nulisyuk secara online. Jujur, aku suka cara penyampaian materinya yang tertata rapi. Komunikasinya pun berjalan menyenangkan dengan tetap santun.
Sudah beberapa kali bergabung dalam kelas online-nya. Sekarang aku ikut dalam #nulisyukbatch37 yang sedang berjalan.
Harapanku, para pemula tak pernah putus asa. Juga tidak enggan untuk selalu belajar dan memperbaiki diri. Tetap semangat.
Salam hangat bagi semua pejuang aksara.
Selasa, 23 Juli 2019
Melatih Anak Minum dengan Sedotan
Bagi orang dewasa minum menggunakan sedotan merupakan hal mudah. Siapa sangka mengajarkannya pada anak tidak semudah yang dibayangkan.
Mungkin memang ada anak yang saat diberi minum dengan sedotan langsung bisa dalam sekali coba. Namun, tidak semua anak demikian. Anak saya termasuk salah satunya.
Di era media sosial ini, ada banyak kisah tentang anak-anak yang dapat diperoleh dengan mudah. Orang tua senang membagi kisah tentang buah hatinya. Misalnya melalui instagram. Saat melihat ada banyak anak yang dengan mudahnya minum melalui sedotan beberapa waktu setelah mulai masa MPASI, saya pun optimis. Yakin bahwa anak saya juga bisa.
Ternyata kenyataannya tidak demikian. Sudah berbulan-bulan MPASI, tetapi buah hati saya tetap belum dapat minum melalui sedotan. Awalnya saya harus menyendokkan minumannya. Beberapa lama kemudian dia bisa minum sedikit demi sedikit dengan gelas. Namun, tetap saja belum bisa menggunakan sedotan.
Beberapa cara sudah dicoba. Pertama, mengisi sedotan yang ditutup ujungnya dengan air putih, lalu meneteskannya pada anak agar dia paham sedotan itu untuk minum. Namun, cara itu gagal. Kedua, menggunakan cara yang sama, tetapi air putih diganti dengan jus agar anak tertarik. Masih gagal juga. Ketiga, minum dengan minuman yang sama persis di hadapan anak dan menunjukkan cara untuk menyedot. Tetap belum berhasil.
Cara yang terakhir saya coba adalah menggunakan air mineral dalam kemasan gelas. Saya menusukkan sedotan ke dalamnya. Kemudian diberikan kepada anak sambil sedikit ditekan kemasannya. Otomatis air akan naik perlahan. Alhamdulillah berhasil. Ternyata itu bisa membuatnya paham bahwa sedotan itu untuk minum. Dia pun sangat antusias.
Setiap anak memang memiliki keunikan masing-masing. Tidak bisa disamakan. Saya juga yakin bahwa setiap ibu pasti diberi kemampuan oleh Allah untuk mengetahui apa yang terbaik untuk anaknya.
Selamat berproses bersama anak, Bukibuk di mana pun berada. Nikmati setiap perkembangannya. Tak perlu tergesa.
Mungkin memang ada anak yang saat diberi minum dengan sedotan langsung bisa dalam sekali coba. Namun, tidak semua anak demikian. Anak saya termasuk salah satunya.
Di era media sosial ini, ada banyak kisah tentang anak-anak yang dapat diperoleh dengan mudah. Orang tua senang membagi kisah tentang buah hatinya. Misalnya melalui instagram. Saat melihat ada banyak anak yang dengan mudahnya minum melalui sedotan beberapa waktu setelah mulai masa MPASI, saya pun optimis. Yakin bahwa anak saya juga bisa.
Ternyata kenyataannya tidak demikian. Sudah berbulan-bulan MPASI, tetapi buah hati saya tetap belum dapat minum melalui sedotan. Awalnya saya harus menyendokkan minumannya. Beberapa lama kemudian dia bisa minum sedikit demi sedikit dengan gelas. Namun, tetap saja belum bisa menggunakan sedotan.
Beberapa cara sudah dicoba. Pertama, mengisi sedotan yang ditutup ujungnya dengan air putih, lalu meneteskannya pada anak agar dia paham sedotan itu untuk minum. Namun, cara itu gagal. Kedua, menggunakan cara yang sama, tetapi air putih diganti dengan jus agar anak tertarik. Masih gagal juga. Ketiga, minum dengan minuman yang sama persis di hadapan anak dan menunjukkan cara untuk menyedot. Tetap belum berhasil.
Cara yang terakhir saya coba adalah menggunakan air mineral dalam kemasan gelas. Saya menusukkan sedotan ke dalamnya. Kemudian diberikan kepada anak sambil sedikit ditekan kemasannya. Otomatis air akan naik perlahan. Alhamdulillah berhasil. Ternyata itu bisa membuatnya paham bahwa sedotan itu untuk minum. Dia pun sangat antusias.
Setiap anak memang memiliki keunikan masing-masing. Tidak bisa disamakan. Saya juga yakin bahwa setiap ibu pasti diberi kemampuan oleh Allah untuk mengetahui apa yang terbaik untuk anaknya.
Selamat berproses bersama anak, Bukibuk di mana pun berada. Nikmati setiap perkembangannya. Tak perlu tergesa.
Jumat, 22 Juni 2018
Kolaborasi Ayah dan Ibu untuk Anak
Menjadi seorang ibu ternyata membuat saya memikirkan banyak hal. Semua itu demi masa depan anak tentunya. Salah satunya mengenai pola asuh terhadap anak. Setelah memiliki anak baru saya sadar bahwa sesungguhnya yang terbaik bagi anak adalah saat ayah dan ibunya dapat berkolaborasi dengan baik dalam mendidik.
Baru-baru ini ada yang viral di sosmed, yaitu tentang Azka (anak dari mas Deddy Corbuzier dan mbak Kalina Oktarani) yang menjadi lulusan terbaik. Saya ikut senang pastinya. Ikut merasakan haru yang dirasakan oleh orang tua Azka. Saya juga salut pada orang tua Azka yang tetap dapat berkolaborasi dengan baik untuk Azka. Mungkin itu merupakan salah satu hal penting yang memiliki andil besar sehingga putra mereka tetap dapat mengukir prestasi yang sangat memuaskan.
Saya juga teringat momen pendaftaran SMA. Saat itu kedua orang tua saya mengantar untuk mendaftar di SMA yang merupakan pilihan saya, sebuah SMA negeri yang mulai menerapkan bilingual. Saya pun membaca setiap pengumuman yang terpajang di sana, lalu mama menghampiri dan berkata "Mbak, yakin mau masuk sini? Bahasa Inggris semua gini, yakin nantinya kamu bisa ngikutin pelajarannya?". Saya menjawab "Yakin ma, insyaallah bisa". Kemudian ayah saya menghampiri dan sepertinya mendengar sebagian percakapan kami lalu berkata "Bisa dong ya mbak, bahasa inggris mudah kan ya, haha". Dari perkataan kedua orang tua saya itu, saya pun akhirnya tahu bahwa saya tetap harus percaya diri tetapi harus tetap waspada dengan kendala yang kemungkinan akan dihadapi.
Sekarang saya mengalaminya sendiri. Saya memiliki seorang anak yang usianya belum ada 1 tahun. Waktu itu kami mendampingi dia bermain dengan para sepupunya. Mereka bermain bola. Ayahnya pun mengajarkan untuk menendang bola dan dia pun bisa. Namun, beberapa hari kemudian tampak efek lainnya. Dia tidak hanya menendang bola. Barang-barang ditendanginya, sampai-sampai keranjang yang berisi peralatan mandinya pun juga ditendangi hingga berserakan. Tentu ini cukup menguji kesabaran. Tetapi saya sadar, di sinilah dia membutuhkan peran saya sebagai ibu, menunjukkan padanya bahwa tidak semua barang itu untuk ditendang. Menunjukkan mana yang dapat ditendang, mana yang tetap harus dipegang menggunakan tangan.
Ternyata tugas untuk menjadi orang tua tidak sesederhana mengajak anak bermain. Tugas ini membutuhkan tanggung jawab. Dibutuhkan kolaborasi dua sosok penting di sini, ayah dan ibu.
Baru-baru ini ada yang viral di sosmed, yaitu tentang Azka (anak dari mas Deddy Corbuzier dan mbak Kalina Oktarani) yang menjadi lulusan terbaik. Saya ikut senang pastinya. Ikut merasakan haru yang dirasakan oleh orang tua Azka. Saya juga salut pada orang tua Azka yang tetap dapat berkolaborasi dengan baik untuk Azka. Mungkin itu merupakan salah satu hal penting yang memiliki andil besar sehingga putra mereka tetap dapat mengukir prestasi yang sangat memuaskan.
Saya juga teringat momen pendaftaran SMA. Saat itu kedua orang tua saya mengantar untuk mendaftar di SMA yang merupakan pilihan saya, sebuah SMA negeri yang mulai menerapkan bilingual. Saya pun membaca setiap pengumuman yang terpajang di sana, lalu mama menghampiri dan berkata "Mbak, yakin mau masuk sini? Bahasa Inggris semua gini, yakin nantinya kamu bisa ngikutin pelajarannya?". Saya menjawab "Yakin ma, insyaallah bisa". Kemudian ayah saya menghampiri dan sepertinya mendengar sebagian percakapan kami lalu berkata "Bisa dong ya mbak, bahasa inggris mudah kan ya, haha". Dari perkataan kedua orang tua saya itu, saya pun akhirnya tahu bahwa saya tetap harus percaya diri tetapi harus tetap waspada dengan kendala yang kemungkinan akan dihadapi.
Sekarang saya mengalaminya sendiri. Saya memiliki seorang anak yang usianya belum ada 1 tahun. Waktu itu kami mendampingi dia bermain dengan para sepupunya. Mereka bermain bola. Ayahnya pun mengajarkan untuk menendang bola dan dia pun bisa. Namun, beberapa hari kemudian tampak efek lainnya. Dia tidak hanya menendang bola. Barang-barang ditendanginya, sampai-sampai keranjang yang berisi peralatan mandinya pun juga ditendangi hingga berserakan. Tentu ini cukup menguji kesabaran. Tetapi saya sadar, di sinilah dia membutuhkan peran saya sebagai ibu, menunjukkan padanya bahwa tidak semua barang itu untuk ditendang. Menunjukkan mana yang dapat ditendang, mana yang tetap harus dipegang menggunakan tangan.
Ternyata tugas untuk menjadi orang tua tidak sesederhana mengajak anak bermain. Tugas ini membutuhkan tanggung jawab. Dibutuhkan kolaborasi dua sosok penting di sini, ayah dan ibu.
Rabu, 09 Mei 2018
Dari Bandara Soekarno Hatta ke Batu Ceper dengan Kereta Bandara
Pada tulisan kali ini saya akan berbagi pengalaman saat pertama kali mencicipi naik kereta bandara daaaan ternyata saya ketagihan. Kereta nyaman, harga terjangkau, serta tidak menambah kemacetan Jabodetabek dengan kendaraan pribadi.
Bagaimana caranya? Tenang saja, amat sangat mudah sekali. Waktu itu saya tiba di terminal 1. Saat keluar dari pintu kedatangan langsung saya mencari papan petunjuk. Nah, yang pertama saya cari adalah papan bertuliskan Kalayang/ skyline. Artinya saat itu saya tidak hanya mencoba kereta bandara saja, tetapi juga skyline yang tergolong masih baru. Namun, sebenarnya shuttle bus masih beroperasi. Jadi ini hanya pilihan. Menuju stasiun untuk kereta bandara tidak hanya bisa dengan skyline saja, tetapi bisa juga dengan shuttle bus.
Kalau cara yang saya tempuh waktu itu adalah saya berjalan menuju stasiun untuk kereta layang yang letaknya juga di sekitar terminal 1. Setelah itu saya berhenti di pemberhentian pertama, yaitu stasiun kereta bandara. Sebab, skyline setelah itu akan menuju ke terminal 2 lalu 3. Jadi jangan sampai terlambat turun ya.
Setelah tiba di stasiun kereta bandara, saya menuju tempat pembelian tiket. Tiket dibeli menggunakan mesin layar sentuh dengan self service, tetapi waktu itu tetap ada petugas yang standby untuk mengarahkan. Saya akan menuju Stasiun Batu Ceper, jadi saat itu stasiun tujuan yang saya pilih adalah Batu Ceper. Jangan salah pilih, karena berbeda stasiun akan berbeda harga. Berapa harga tiket kereta bandara menuju Batu Ceper? Tenaaaang, hanya 17.500 rupiah. Cukup terjangkau.
Saya menunggu kereta datang di ruang tunggu yang juga sangat nyaman dekat dengan peron. Setelah ada pengumuman kereta datang saya segera ke peron dan masuk ke dalam kereta. Bagaimana dengan kenyamanan keretanya? Keretanya sangat bersih dan nyaman, sungguh memuaskan. Perjalanan tidak lama, saya pun tiba di Stasiun Batu Ceper. Apakah stasiunnya sama dengan stasiun untuk krl? Tidak, stasiun untuk kereta bandara ini dibangun sendiri, tetapi tetap bersebelahan dengan stasiun untuk krl.
Demikian pengalaman saya saat pertama kali naik kereta bandara. Bagaimana, apakah Anda juga berminat untuk mencoba?
Rabu, 18 April 2018
Mengikuti Kelas Senam Hamil, Penting atau Tidak?
Jujur saja dulu saat hamil saya sama sekali tidak terpikir untuk mengikuti kelas senam hamil, hingga dokter kandungan saya memang mengharuskan untuk mengikuti kelas tersebut. Saya memang rutin melakukan gerakan-gerakan ringan saat hamil, tetapi tidak terpikir untuk mengikuti kelas senam hamil karena menurut saya toh sama saja, saya juga sudah melakukan gerakan-gerakan yang sama di rumah. Namun, setelah mengikuti kelas senam hamil, saya baru menyadari bahwa ternyata ada beberapa manfaat yang diperoleh. Beberapa manfaatnya adalah sebagai berikut:
1. Meregangkan otot yang kaku
Wanita yang sedang hamil biasanya ototnya terasa lebih kaku dari biasanya, sehingga sering terasa pegal di beberapa bagian tubuh. Dengan senam hamil ini otot dapat meregang sehingga mengurangi rasa pegal dan kurang nyaman pada beberapa bagian tubuh. Mungkin manfaat ini masih dapat diperoleh dengan melakukan gerakan ringan di rumah, tanpa mengikuti kelas.
2. Detak jantung dan posisi janin terpantau
Saat mengikuti kelas senam hamil, bidan yang memimpin senam selalu memeriksa detak jantung dan meraba bagian perut untuk mengetahui posisi janin. Bila mendekati hari perkiraan lahir, sebaiknya posisi janin sudah optimal. Nah, untuk manfaat ini hanya dapat diperoleh bila mengikuti senam hamil.
3. Bertemu dengan sesama ibu hamil
Mmmm...pentingkah bertemu dan berbincang dengan sesama ibu hamil? Ya, menurut saya amat sangat penting. Dengan bertemu dengan sesama ibu hamil kita dapat berbincang mengenai kehamilan, apa saja yang dikeluhkan, apa saja yang dirasakan. Ini membuat kita merasa "U're not alone". Ibu hamil rawan stress padahal ibu hamil tidak boleh stress loh. Nah, ini bisa jadi solusi mencegah stress bagi ibu hamil.
4. Mendapat banyak informasi
Biasanya setiap selesai kelas senam hamil bidan membuka sesi tanya jawab. Di sini kita dapat memperoleh banyak informasi, baik mengenai kehamilan, melahirkan, merawat bayi, maupun hal-hal terkait yang lainnya. Ini sangat penting. Biasanya banyak saran dari lingkungan sekitar kepada ibu hamil yang ternyata saran-saran tersebut belum tentu benar. Kalau tidak teredukasi dengan baik bisa saja ibu hamil mengikuti saran yang salah, atau justru merasa stress dengan banyaknya omongan orang.
Itulah beberapa manfaat dari mengikuti kelas senam hamil. Apakah manfaat tersebut penting atau tidak menurut Anda? Semoga sehat selalu dan senantiasa bahagia ya ibu-ibu hamil 😊
1. Meregangkan otot yang kaku
Wanita yang sedang hamil biasanya ototnya terasa lebih kaku dari biasanya, sehingga sering terasa pegal di beberapa bagian tubuh. Dengan senam hamil ini otot dapat meregang sehingga mengurangi rasa pegal dan kurang nyaman pada beberapa bagian tubuh. Mungkin manfaat ini masih dapat diperoleh dengan melakukan gerakan ringan di rumah, tanpa mengikuti kelas.
2. Detak jantung dan posisi janin terpantau
Saat mengikuti kelas senam hamil, bidan yang memimpin senam selalu memeriksa detak jantung dan meraba bagian perut untuk mengetahui posisi janin. Bila mendekati hari perkiraan lahir, sebaiknya posisi janin sudah optimal. Nah, untuk manfaat ini hanya dapat diperoleh bila mengikuti senam hamil.
3. Bertemu dengan sesama ibu hamil
Mmmm...pentingkah bertemu dan berbincang dengan sesama ibu hamil? Ya, menurut saya amat sangat penting. Dengan bertemu dengan sesama ibu hamil kita dapat berbincang mengenai kehamilan, apa saja yang dikeluhkan, apa saja yang dirasakan. Ini membuat kita merasa "U're not alone". Ibu hamil rawan stress padahal ibu hamil tidak boleh stress loh. Nah, ini bisa jadi solusi mencegah stress bagi ibu hamil.
4. Mendapat banyak informasi
Biasanya setiap selesai kelas senam hamil bidan membuka sesi tanya jawab. Di sini kita dapat memperoleh banyak informasi, baik mengenai kehamilan, melahirkan, merawat bayi, maupun hal-hal terkait yang lainnya. Ini sangat penting. Biasanya banyak saran dari lingkungan sekitar kepada ibu hamil yang ternyata saran-saran tersebut belum tentu benar. Kalau tidak teredukasi dengan baik bisa saja ibu hamil mengikuti saran yang salah, atau justru merasa stress dengan banyaknya omongan orang.
Itulah beberapa manfaat dari mengikuti kelas senam hamil. Apakah manfaat tersebut penting atau tidak menurut Anda? Semoga sehat selalu dan senantiasa bahagia ya ibu-ibu hamil 😊
Selasa, 10 April 2018
Kuliner Andalan di Ngaliyan Semarang
Sekarang ini makan bukan cuma sekedar kebutuhan perut. Namun, juga menjadi kebutuhan lidah. Jadi tidak hanya asal kenyang, tetapi juga perlu rasa yang enak.
Kebetulan saya tinggal di daerah Ngaliyan. Kali ini saya akan membahas tentang makanan kaki lima yang terkenal enak di Ngaliyan.
1. Tio Ciu Sedap Mantap
Sebagian besar warga Ngaliyan kenal dengan tempat makan ini. Posisinya ada di pinggir jalan sekitar seberang Pasar Ngaliyan. Tempat ini selalu ramai, tetapi tidak perlu khawatir karena pelayanannya termasuk cepat. Bila tidak ingin antre lama sebaiknya hindari jam makan siang atau makan malam. Beberapa menu favorit saya di sini adalah bakmi goreng seafood, nasi goreng seafood, dan kwitiaw goreng seafood. Tenang, tidak hanya dengan seafood saja makanan yang dijual di sini, dengan ayam atau telur juga ada. Selain yang saya sebutkan tadi, ada juga menu capcay, cumi goreng tepung, brokoli goreng tepung, juga masih ada menu lainnya. Dengan sekitar 20.000an rupiah perut sudah kenyang dengan makanan yang nikmat di lidah. Oh ya, jangan khawatir dengan namanya ya, makanan di sini halal.
2. Tahu Gimbal dan Gado-Gado Bu Siti
Sesuai dengan nama tempatnya, yang dijual di sini adalah gado-gado dan makanan khas Semarang yaitu tahu gimbal. Rasa bumbu kacang yang pas membuat 2 menu tersebut semakin nikmat. Ingin makan siang atau makan malam di sini silakan, karena pada jam makan siang pun tempat ini sudah buka. Jangan khawatir, cukup menyiapkan sekitar 20.000 rupiah kita sudah kenyang dengan seporsi menu makan dan segelas minum. Tempat makan ini letaknya tidak jauh dari Sedap Mantap, hanya sekitar 10 meter saja jarak kedua tempat tersebut.
3. Bakmi Jowo Pak Jangkung
Ini adalah bakmi jowo yang paling terkenal di Ngaliyan. Rasanya enak, sehingga tempat ini selalu ramai pengunjung. Menurut saya porsinya tidak terlalu besar, sehingga bila porsi makan Anda banyak sebaiknya bersiap untuk memesan 2 porsi. Jika hanya memesan satu porsi saja uang 20.000 rupiah pun masih dapat kembalian. Posisi tempat makan ini ada di kiri jalan bila menuju ke arah Pasar Ngaliyan. Tepatnya ada di sekitar seberang SD Tambakaji 04.
4. Sate Padang Serasi
Pecinta sate padang yang tinggal Ngaliyan pasti merasa beruntung ada sate padang ini. Menurut banyak orang rasanya enak. Seporsi sate padang dengan 1 ketupat harganya 15.000. Sekarang sate padang ini berjualan di halaman Swalayan Ono.
5. Capcay Tukino
Orang Semarang mungkin sudah banyak yang tahu tentang capcay ini. Di tempat aslinya antrenya super duper panjang. Saingan mungkin ya sama antrean teller waktu tanggal muda. Sampai ada nomor antreannya. Nah, beruntungnya capcay ini buka cabang di Ngaliyan, yaitu di kiri jalan setelah Swalayan Aneka Jaya. Tenang, kalau di sini enggak sepenuh di pusatnya kalau lagi antre. Memasaknya pun cepat. Namun, ada yang perlu diingat, tempat ini hanya melayani bungkus saja, tidak bisa makan di tempat. Selain itu tempat ini hanya buka mulai sore hingga habis. Biasanya tidak sampai terlalu malam sudah habis. Sebenarnya di sini tidak hanya menjual capcay, tetapi ada mie juga. Menurut saya yang rasanya khas kenikmatannya itu capcaynya. Mengenai harga cukup merogoh kocek ya, sekitar 40.000. Tetapi itu bisa untuk makan bersama beberapa orang.
6. Bakso Do'a Ibu
Bakso ini juga sudah cukup terkenal di Semarang. Hanya saja letaknya cukup jauh dari Ngaliyan. Nah, akhirnya bakso ini membuka cabang di Ngaliyan. Warga Ngaliyan yang sangat suka makan bakso jadi lebih mudah menjangkau tempat ini. Letaknya ada di belakang SD Tambakaji 04. Dengan membawa uang 20.000 sudah cukup untuk makan seporsi bakso dan minum.
Itulah beberapa tempat makan andalan di Ngaliyan. Silakan mencoba 😊
Kebetulan saya tinggal di daerah Ngaliyan. Kali ini saya akan membahas tentang makanan kaki lima yang terkenal enak di Ngaliyan.
1. Tio Ciu Sedap Mantap
Sebagian besar warga Ngaliyan kenal dengan tempat makan ini. Posisinya ada di pinggir jalan sekitar seberang Pasar Ngaliyan. Tempat ini selalu ramai, tetapi tidak perlu khawatir karena pelayanannya termasuk cepat. Bila tidak ingin antre lama sebaiknya hindari jam makan siang atau makan malam. Beberapa menu favorit saya di sini adalah bakmi goreng seafood, nasi goreng seafood, dan kwitiaw goreng seafood. Tenang, tidak hanya dengan seafood saja makanan yang dijual di sini, dengan ayam atau telur juga ada. Selain yang saya sebutkan tadi, ada juga menu capcay, cumi goreng tepung, brokoli goreng tepung, juga masih ada menu lainnya. Dengan sekitar 20.000an rupiah perut sudah kenyang dengan makanan yang nikmat di lidah. Oh ya, jangan khawatir dengan namanya ya, makanan di sini halal.
2. Tahu Gimbal dan Gado-Gado Bu Siti
Sesuai dengan nama tempatnya, yang dijual di sini adalah gado-gado dan makanan khas Semarang yaitu tahu gimbal. Rasa bumbu kacang yang pas membuat 2 menu tersebut semakin nikmat. Ingin makan siang atau makan malam di sini silakan, karena pada jam makan siang pun tempat ini sudah buka. Jangan khawatir, cukup menyiapkan sekitar 20.000 rupiah kita sudah kenyang dengan seporsi menu makan dan segelas minum. Tempat makan ini letaknya tidak jauh dari Sedap Mantap, hanya sekitar 10 meter saja jarak kedua tempat tersebut.
Seporsi tahu gimbal (bila dibungkus)
3. Bakmi Jowo Pak Jangkung
Ini adalah bakmi jowo yang paling terkenal di Ngaliyan. Rasanya enak, sehingga tempat ini selalu ramai pengunjung. Menurut saya porsinya tidak terlalu besar, sehingga bila porsi makan Anda banyak sebaiknya bersiap untuk memesan 2 porsi. Jika hanya memesan satu porsi saja uang 20.000 rupiah pun masih dapat kembalian. Posisi tempat makan ini ada di kiri jalan bila menuju ke arah Pasar Ngaliyan. Tepatnya ada di sekitar seberang SD Tambakaji 04.
4. Sate Padang Serasi
Pecinta sate padang yang tinggal Ngaliyan pasti merasa beruntung ada sate padang ini. Menurut banyak orang rasanya enak. Seporsi sate padang dengan 1 ketupat harganya 15.000. Sekarang sate padang ini berjualan di halaman Swalayan Ono.
5. Capcay Tukino
Orang Semarang mungkin sudah banyak yang tahu tentang capcay ini. Di tempat aslinya antrenya super duper panjang. Saingan mungkin ya sama antrean teller waktu tanggal muda. Sampai ada nomor antreannya. Nah, beruntungnya capcay ini buka cabang di Ngaliyan, yaitu di kiri jalan setelah Swalayan Aneka Jaya. Tenang, kalau di sini enggak sepenuh di pusatnya kalau lagi antre. Memasaknya pun cepat. Namun, ada yang perlu diingat, tempat ini hanya melayani bungkus saja, tidak bisa makan di tempat. Selain itu tempat ini hanya buka mulai sore hingga habis. Biasanya tidak sampai terlalu malam sudah habis. Sebenarnya di sini tidak hanya menjual capcay, tetapi ada mie juga. Menurut saya yang rasanya khas kenikmatannya itu capcaynya. Mengenai harga cukup merogoh kocek ya, sekitar 40.000. Tetapi itu bisa untuk makan bersama beberapa orang.
6. Bakso Do'a Ibu
Bakso ini juga sudah cukup terkenal di Semarang. Hanya saja letaknya cukup jauh dari Ngaliyan. Nah, akhirnya bakso ini membuka cabang di Ngaliyan. Warga Ngaliyan yang sangat suka makan bakso jadi lebih mudah menjangkau tempat ini. Letaknya ada di belakang SD Tambakaji 04. Dengan membawa uang 20.000 sudah cukup untuk makan seporsi bakso dan minum.
Itulah beberapa tempat makan andalan di Ngaliyan. Silakan mencoba 😊
Minggu, 11 Februari 2018
Tentang Bayi (Orang Awam vs Dokter Spesialis Anak)
Salam kenal para Ibu baru. Bagaimana kondisi hari ini? Apakah mood masih terkontrol? Semoga selalu bahagia ya menghadapi hari-hari agar ASI lancar dan bayi tenang.
Bagaimana dengan hari yang sudah terlalui, lancar atau ada cobaan? Cobaan menghadapi kata orang-orang di luar sana? Hehe, tenang, calm down, relax. Tidak perlu dirisaukan apa kata orang-orang di luar sana, yang penting sudah melakukan hal yang diyakini benar dan memang ada dasarnya bahwa itulah yang tepat.
Nah, di tulisan kali ini saya akan menjabarkan apa kata orang awam dan apa kata dokter spesialis anak. Beruntungnya saya waktu itu membawa anak untuk imunisasi di dokter anak dekat rumah yang kebetulan memang dokternya cakap, baik, tidak membuat panik, dan mau untuk menjelaskan setiap hal yang penting. Akan saya tulis di sini apa saja yang beliau jelaskan.
1. Kaki bayi berbentuk O
Orang awam: "Aduh itu kakinya bentuk O, harus dibedong yang kuat ya biar kakinya lurus."
Dokter: "Ibu, jangan heran ya kalau kaki bayi berbentuk O, memang begitu. Tidak perlu dibedong kuat-kuat, itu justru tidak baik. Dibedong boleh saja, asal jangan kencang."
2. Bayi kuning
Orang awam: "Loh itu bayinya kuning, harus rajin dijemur sinar matahari pagi tuh."
Dokter: "Bayi kuning itu bukan karna kurang sinar matahari pagi lho Bu. Kalau gara-gara kurang sinar pagi ya bayi yang lahir di musim hujan pasti kuning. Obat utama bayi kuning itu ASI. Bayi mimik ASI nya cukup pasti kuningnya langsung membaik dan hilang."
3. Napas bayi bunyi "Grak grok" dan bayi bersin-bersin
Orang awam: "Kok napasnya bunyi gitu, bersin-bersin juga, pilek tuh bayinya."
Dokter: "Napas bayi baru lahir sampai beberapa bulan memang masih bunyi grak grok dan juga bersin-bersin. Itu wajar, bukan sakit."
4. Pemakaian gurita
Orang awam: "Ih bayinya enggak pakai gurita, ntar perutnya buncit lho."
Dokter: "Ibu, kalau lagi ke dokter lain jangan pakai gurita ya bayinya. Kasian takutnya Ibunya jadi dimarahin dokter. Kalau ke saya gak papa pakai gurita asal jangan terlalu kencang, kasian bayinya kalau terlalu kencang. Sebenarnya itu fungsinya hanya agar bayi lebih hangat saja. Tidak ada fungsi lainnya."
5. Bayi mudah kaget
Orang awam: "Kok gampang kaget ya bayinya, dikasih itu deh (menyebutkan sesuatu) biar ilang kagetannya."
Dokter: "Bu, jangan heran ya kalau bayinya kagetan. Bayi memang begitu. Itu bukan suatu masalah. Memang sewajarnya ya seperti itu."
6. Ibu menyusui tidak boleh makan pedas
Orang awam: "Kok makan pedas sih, nanti bayinya mencret loh."
Dokter: "Tidak ada pantangan makanan untuk ibu menyusui. Makan pedas juga tidak masalah. Saya masih belum bisa menghubungkan antara ibunya makan pedas dan bayinya mencret. Tidak mungkin juga ibunya minum es lalu bayinya jadi pilek. Apa mungkin ilmu saya yang masih kurang tinggi ya, haha."
7. Bayi keluar kotoran mata
Orang awam: "Kok ada kotoran matanya lagi, belekan ya itu bayinya?"
Dokter: "Jangan heran kalau bayi keluar kotoran matanya. Memang begitu, itu bukan belekan ya."
8. Bayi sering cegukan
Orang awam: "Aduh itu kok bayinya cegukan, kasian."
Dokter: "Bayi baru lahir hingga beberapa bulan itu memang sering cegukan, jangan khawatir ya Bu."
9. Gumoh
Orang awam: "Kok bayinya gumoh lagi, masuk angin mungkin tuh."
Dokter: "Bayi gumoh itu memang wajar ya Bu. Bukan masuk angin lho itu."
10. Bayi keluar bintik merah di pipi
Orang awam: "Bintik-bintik merah tuh di pipinya, makannya jangan sampai ketetesan ASI."
Dokter: "Bu, bayi baru lahir itu sering memang keluar bintik merah di pipinya. Itu biasanya biang keringat, bukan karna ketetesan ASI."
11. Bayi BAB berkali-kali dalam sehari
Orang awam: "Kok bayinya BAB lagi, diare tuh bayinya."
Dokter: "Bayi ASI eksklusif itu memang BAB nya sering Bu. Malah bisa sampai 10 kali dalam sehari. Semakin sering menyusu, semakin sering BAB."
12. Bayi tidak BAB berhari-hari
Orang awam: "Beberapa hari gak BAB? Sembelit tuh bayinya."
Dokter: "Bayi ASI eksklusif itu sehari bisa BAB berkali-kali. Tapi jangan heran juga kalau kadang gak BAB berhari-hari. Kalau sampai 10 hari periksakan ya."
13. Menyusui sambil tiduran
Orang awam: "Kalau anak udah bisa duduk itu gak boleh nyusu sambil tiduran, bisa tersedak. Menyusu sambil tiduran juga bahaya, kalau Ibunya tertidur bisa menimpa bayi."
Dokter: "Bu, kalau menyusui lebih enak sambil tiduran saja. Masih banyak yang harus dilakukan, jangan sampai Ibu kelelahan karena posisi menyusui yang tidak nyaman. Menyusui sambil tiduran itu tidak membuat tersedak. Juga tidak mungkin Ibunya tertidur sampai menimpa bayi."
Itulah beberapa hal penting yang ternyata berbeda antara apa kata orang awam dan kata dokter spesialis anak. Pasti tahu kan ya mana yang lebih benar dan bisa dijadikan pedoman. Itu semua benar-benar apa yang dikatakan dokter tersebut dan beliau mengatakannya tanpa saya mengatakan pada beliau tentang apa kata orang awam. Jadi beliau memang sudah paham betul opini apa yang beredar di masyarakat.
Ada satu hal lagi yang penting. Beliau juga mengatakan "Mengurus bayi dari generasi ke generasi itu berbeda ya Bu. Jadi jangan samakan bagaimana mengurus bayi jaman dulu dengan jaman sekarang. Mengurus bayi di masa yang akan datang juga mungkin akan berbeda lagi."
Terima kasih dokter untuk semua penjelasannya. Saya tidak perlu bertanya pun sudah dijelaskan dengan detail. Saya merasa seperti mengikuti seminar singkat waktu itu. Terima kasih banyak dokter sudah meluangkan waktu untuk menjelaskan.
Berbeda dokter mungkin saja ada pendapat yang tidak sama, tetapi melalui tulisan ini setidaknya tergambarkan perbedaan antara apa kata orang awam dan kata dokter spesialis anak. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk para Ibu baru. Jangan patah semangat. Opini masyarakat belum tentu benar. Jaga mood agar selalu bahagia ya.
Bagaimana dengan hari yang sudah terlalui, lancar atau ada cobaan? Cobaan menghadapi kata orang-orang di luar sana? Hehe, tenang, calm down, relax. Tidak perlu dirisaukan apa kata orang-orang di luar sana, yang penting sudah melakukan hal yang diyakini benar dan memang ada dasarnya bahwa itulah yang tepat.
Nah, di tulisan kali ini saya akan menjabarkan apa kata orang awam dan apa kata dokter spesialis anak. Beruntungnya saya waktu itu membawa anak untuk imunisasi di dokter anak dekat rumah yang kebetulan memang dokternya cakap, baik, tidak membuat panik, dan mau untuk menjelaskan setiap hal yang penting. Akan saya tulis di sini apa saja yang beliau jelaskan.
1. Kaki bayi berbentuk O
Orang awam: "Aduh itu kakinya bentuk O, harus dibedong yang kuat ya biar kakinya lurus."
Dokter: "Ibu, jangan heran ya kalau kaki bayi berbentuk O, memang begitu. Tidak perlu dibedong kuat-kuat, itu justru tidak baik. Dibedong boleh saja, asal jangan kencang."
2. Bayi kuning
Orang awam: "Loh itu bayinya kuning, harus rajin dijemur sinar matahari pagi tuh."
Dokter: "Bayi kuning itu bukan karna kurang sinar matahari pagi lho Bu. Kalau gara-gara kurang sinar pagi ya bayi yang lahir di musim hujan pasti kuning. Obat utama bayi kuning itu ASI. Bayi mimik ASI nya cukup pasti kuningnya langsung membaik dan hilang."
3. Napas bayi bunyi "Grak grok" dan bayi bersin-bersin
Orang awam: "Kok napasnya bunyi gitu, bersin-bersin juga, pilek tuh bayinya."
Dokter: "Napas bayi baru lahir sampai beberapa bulan memang masih bunyi grak grok dan juga bersin-bersin. Itu wajar, bukan sakit."
4. Pemakaian gurita
Orang awam: "Ih bayinya enggak pakai gurita, ntar perutnya buncit lho."
Dokter: "Ibu, kalau lagi ke dokter lain jangan pakai gurita ya bayinya. Kasian takutnya Ibunya jadi dimarahin dokter. Kalau ke saya gak papa pakai gurita asal jangan terlalu kencang, kasian bayinya kalau terlalu kencang. Sebenarnya itu fungsinya hanya agar bayi lebih hangat saja. Tidak ada fungsi lainnya."
5. Bayi mudah kaget
Orang awam: "Kok gampang kaget ya bayinya, dikasih itu deh (menyebutkan sesuatu) biar ilang kagetannya."
Dokter: "Bu, jangan heran ya kalau bayinya kagetan. Bayi memang begitu. Itu bukan suatu masalah. Memang sewajarnya ya seperti itu."
6. Ibu menyusui tidak boleh makan pedas
Orang awam: "Kok makan pedas sih, nanti bayinya mencret loh."
Dokter: "Tidak ada pantangan makanan untuk ibu menyusui. Makan pedas juga tidak masalah. Saya masih belum bisa menghubungkan antara ibunya makan pedas dan bayinya mencret. Tidak mungkin juga ibunya minum es lalu bayinya jadi pilek. Apa mungkin ilmu saya yang masih kurang tinggi ya, haha."
7. Bayi keluar kotoran mata
Orang awam: "Kok ada kotoran matanya lagi, belekan ya itu bayinya?"
Dokter: "Jangan heran kalau bayi keluar kotoran matanya. Memang begitu, itu bukan belekan ya."
8. Bayi sering cegukan
Orang awam: "Aduh itu kok bayinya cegukan, kasian."
Dokter: "Bayi baru lahir hingga beberapa bulan itu memang sering cegukan, jangan khawatir ya Bu."
9. Gumoh
Orang awam: "Kok bayinya gumoh lagi, masuk angin mungkin tuh."
Dokter: "Bayi gumoh itu memang wajar ya Bu. Bukan masuk angin lho itu."
10. Bayi keluar bintik merah di pipi
Orang awam: "Bintik-bintik merah tuh di pipinya, makannya jangan sampai ketetesan ASI."
Dokter: "Bu, bayi baru lahir itu sering memang keluar bintik merah di pipinya. Itu biasanya biang keringat, bukan karna ketetesan ASI."
11. Bayi BAB berkali-kali dalam sehari
Orang awam: "Kok bayinya BAB lagi, diare tuh bayinya."
Dokter: "Bayi ASI eksklusif itu memang BAB nya sering Bu. Malah bisa sampai 10 kali dalam sehari. Semakin sering menyusu, semakin sering BAB."
12. Bayi tidak BAB berhari-hari
Orang awam: "Beberapa hari gak BAB? Sembelit tuh bayinya."
Dokter: "Bayi ASI eksklusif itu sehari bisa BAB berkali-kali. Tapi jangan heran juga kalau kadang gak BAB berhari-hari. Kalau sampai 10 hari periksakan ya."
13. Menyusui sambil tiduran
Orang awam: "Kalau anak udah bisa duduk itu gak boleh nyusu sambil tiduran, bisa tersedak. Menyusu sambil tiduran juga bahaya, kalau Ibunya tertidur bisa menimpa bayi."
Dokter: "Bu, kalau menyusui lebih enak sambil tiduran saja. Masih banyak yang harus dilakukan, jangan sampai Ibu kelelahan karena posisi menyusui yang tidak nyaman. Menyusui sambil tiduran itu tidak membuat tersedak. Juga tidak mungkin Ibunya tertidur sampai menimpa bayi."
Itulah beberapa hal penting yang ternyata berbeda antara apa kata orang awam dan kata dokter spesialis anak. Pasti tahu kan ya mana yang lebih benar dan bisa dijadikan pedoman. Itu semua benar-benar apa yang dikatakan dokter tersebut dan beliau mengatakannya tanpa saya mengatakan pada beliau tentang apa kata orang awam. Jadi beliau memang sudah paham betul opini apa yang beredar di masyarakat.
Ada satu hal lagi yang penting. Beliau juga mengatakan "Mengurus bayi dari generasi ke generasi itu berbeda ya Bu. Jadi jangan samakan bagaimana mengurus bayi jaman dulu dengan jaman sekarang. Mengurus bayi di masa yang akan datang juga mungkin akan berbeda lagi."
Terima kasih dokter untuk semua penjelasannya. Saya tidak perlu bertanya pun sudah dijelaskan dengan detail. Saya merasa seperti mengikuti seminar singkat waktu itu. Terima kasih banyak dokter sudah meluangkan waktu untuk menjelaskan.
Berbeda dokter mungkin saja ada pendapat yang tidak sama, tetapi melalui tulisan ini setidaknya tergambarkan perbedaan antara apa kata orang awam dan kata dokter spesialis anak. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk para Ibu baru. Jangan patah semangat. Opini masyarakat belum tentu benar. Jaga mood agar selalu bahagia ya.
Selasa, 16 Januari 2018
Anak Kita Butuh Ibu yang Percaya Diri
Menjadi seorang Ibu tentunya suatu hal yang sangat
didambakan sebagian besar wanita. Saat waktu itu tiba tidak hanya bahagia yang
terasa, tetapi juga ada rasa haru di dalamnya. Namun, tidak hanya itu, ada juga
sebuah tanggung jawab besar yang menyertainya. Seorang manusia baru terlahir di
dunia, dia membutuhkan seorang Ibu untuk merawatnya, membesarkannya, juga
mendidiknya. Ada sebuah nyawa yang bersandar sepenuhnya kepada seorang Ibu.
Menangis, ya itulah caranya untuk berkomunikasi. Dengan
menangis dia dapat mengungkapkan bahwa dia lapar, mengantuk, ataupun tidak
nyaman. Menafsirkan tangisannya bukanlah hal yang mudah. Banyak orang yang
salah menafsirkan tangisannya, walaupun mereka yakin dan cukup pengalaman
sehingga merasa tahu betul arti tangisannya. Herannya, Ibu sang bayi lah yang biasanya
memiliki tafsiran lebih akurat tentang tangisan bayinya, meskipun dia hanyalah
seorang Ibu baru. Entah itu karena terbiasa, sekedar kebetulan, atau memang
anugerah dari Sang Pencipta.
Dalam memenuhi kebutuhan seorang bayi tentu saja banyak
masukan dari kanan kiri yang pastinya semua merasa bahwa pendapatnya tersebut
benar. Nah, di sinilah seorang Ibu
berperan besar. Ibu harus dapat mengambil keputusan dengan penuh keyakinan,
bukan hanya sekedar mengikuti kata orang. Seorang Ibu harus terus belajar. Semua
saran tidak dapat diterima begitu saja, tetapi harus disaring dan
dipertimbangkan dahulu. Perlu banyak mencari informasi, baik dari membaca,
bertanya pada dokter spesialis anak, maupun berbincang dengan sesama Ibu.
Bagaimana jika seorang Ibu sudah merasa bahwa keputusannya
benar dan sudah banyak referensi tetapi masih ada orang yang menganggap itu
salah? Tetaplah percaya diri. Itu kunci utamanya. Semua saran memang harus
didengarkan, tetapi tidak harus diterapkan. Bagaimana jika kita pada posisi
sebagai orang yang memberi saran? Berlapang hati merupakan suatu keharusan bila
saran tidak diterapkan, hargailah seorang Ibu yang sedang mengusahakan hal
terbaik untuk anaknya tersebut.
Saya pernah membaca di sosial media. Ada seorang Ibu yang
bercerita bahwa dia sedang mengusahakan ASI eksklusif tanpa makanan pendamping
apapun untuk bayinya hingga usia 6 bulan. Suatu hari bayinya menangis, sang Ibu
yakin penyebabnya bukanlah ASI yang kurang, tetapi orang di rumahnya
berpendapat bahwa bayi itu lapar dan harus diberi makanan (bukan ASI ataupun
susu formula). Parahnya saat sang Ibu mandi, bayi tersebut diberi makan pisang
oleh orang di rumah. Terkejutlah Ibu tersebut setelah selesai mandi dan
langsung menangis. Jika sang Ibu juga berencana memberi makanan pendamping tentu saja hal itu bukan masalah. Sayangnya, ada orang yang memutuskan suatu hal terhadap sang bayi tanpa menanyakannya kepada Ibu tersebut. Saya ikut sedih saat membaca cerita itu. Sebenarnya sang Ibu sudah yakin dan memiliki keteguhan hati, sayang ada pihak lain yang menggagalkan rencana baiknya.
Mengenai perbedaan pendapat, banyak juga pro kontra mengenai memberi MPASI untuk bayi
yaitu mana yang terbaik antara BLW (Baby
Led Weaning) dan spoon feeding, atau
justru kombinasi antara keduanya. Pemilihan menu spoon feeding pun juga ada perbedaan pendapat, antara diawali dengan menu tunggal atau langsung menu 4 bintang. Sebenarnya
hal tersebut tidak perlu dirisaukan. Yang terbaik bagi bayi adalah keyakinan
Ibunya dalam mengambil keputusan dan tentu saja harus dilandasi pengetahuan
yang cukup mengenai hal tersebut. Percaya diri dibutuhkan di sini. Jangan mudah
tumbang dengan perkataan orang. Your babies need you, Mom. Babies don’t care about BLW, spoon feeding, or another method. They just need to
know that you are there for taking care of them.
So, be confidence Mom 😊
Kamis, 09 November 2017
Makna dari “Pejuang ASI”
Awalnya saya tidak mengerti
mengapa ada istilah “Pejuang ASI” bagi ibu-ibu menyusui. Setahu saya menyusui
hanyalah sesuatu yang wajar setelah seorang ibu melahirkan. Namun, setelah
merasakan sendiri, tampaknya saya mulai paham mengapa muncul istilah tersebut.
Saya merupakan seorang ibu baru
yang baru saja melahirkan sekitar tiga setengah bulan yang lalu. Alhamdulillah
proses melahirkan secara normal berjalan lancar. Pada hari yang sama dengan
hari kelahiran anak pertama tersebut, ASI saya sudah keluar. It looks like everything’s smooth and
nothing’s wrong. Tapi ternyata tidak semudah itu. Pada hari ketiga saya dapat pulang dari rumah sakit. Hari pertama setelah pulang dari rumah sakit masih berjalan lancar. Hari
kedua, something happened. Anak saya
BAB tetapi tidak kunjung BAK. Setelah ditunggu lama, sangat lama barulah sang anak BAK dan itu hanya sedikit sekali. Dia pun sangat rewel. Saya mulai
panik, semakin panik, dan amat sangat panik. Saya berencana membawanya ke
dokter spesialis anak. Namun, dia sudah semakin rewel. Saya coba mengeluarkan
ASI untuk mengetahui seberapa banyak jumlahnya, dan ternyata amat sangat
sedikit. Akhirnya saya membuka segel susu formula yang dibawakan dari rumah
sakit. Dengan berat hati saya terpaksa harus membuat susu formula untuk diminumnya. Saya sampai menangis saat akan memutuskan hal tersebut. Ternyata
benar, anak minum cukup banyak, artinya ASI saya saat itu tidak memadai
untuk memenuhi kebutuhannya.
Saya masih tidak menerima kondisi
tersebut dan tetap berharap agar anak saya bisa full ASI. Saya pun berjuang, tentunya dengan bantuan orang-orang di
sekitar. Ibu saya setiap hari memasakkan sayur bayam, menu sehat, dan
selalu menyediakan buah. Suami membelikan susu, jamu kemasan paket
melahirkan, marning, dan edamame. Bahkan kakak ipar pun turut membantu
dengan setiap hari ke pasar lalu mengantarkan jamu wejah ke rumah. I’m so thankful to people around me. Setiap
hari saya harus melahap itu semua. Jamu sepahit itu pun tetap diminum. Obat dari dokter juga rutin saya konsumsi. Semua demi
menghasilkan ASI yang memadai untuk anak dan tidak boleh ada kata bosan untuk
sayur bayam serta makanan sehat.
Alhamdulillah, perjuangan
membuahkan hasil yang memuaskan. Setelah selama 2 hari minum susu formula,
akhirnya ASI sudah memadai. Saya mencoba memompa dan hasilnya sudah sama
dengan takaran susu formula yang diminum sesuai kebutuhan anak saya. Dia akhirnya dapat kembali menikmati ASI sepenuhnya, minuman paling nikmat di dunia
baginya. Beruntungnya anak saya tetap meminum ASI dengan lahap dan tidak
bingung puting walaupun sempat minum lewat botol selama 2 hari. Terima kasih
nak, pasti kamu sangat berjuang.
Tidak hanya itu saja. Saat usia
anak sekitar 3 bulan, dia batuk dan demam. Kondisi yang sedang tidak enak
tersebut membuatnya minum ASI lebih sedikit dari biasanya. Setelah sembuh,
keinginannya untuk minum sudah pulih lagi. Namun, produksi ASI saya justru
tidak sebanyak biasanya. Alhamdulillah, dia tetap semangat untuk menyusu kepada
saya. Mungkin daya hisapnya dengan sendirinya memulihkan produksi ASI, sehingga
produksi ASI saya pun kembali normal. Terima kasih nak untuk perjuanganmu.
Masih ada kisah lainnya. Waktu itu
saya juga pernah mengalami mood yang
sangat jelek. Tadinya saya tidak mengira bahwa itu akan berpengaruh pada
produksi ASI. Namun, saya benar-benar mengalami sendiri. Ternyata produksi ASI
saya menurun saat saya merasa sangat bad
mood. Akhirnya saya berusaha sebisa mungkin untuk menghindari bad mood. Beruntungnya, sang anak tetap semangat untuk menyusu dan ASI
saya produksinya dapat membaik dengan cepat. Alhamdulillah.
Sekitar usia anak tiga setengah
bulan ada lagi yang terjadi. Saya merasa bahwa produksi ASI
stabil, tetapi anehnya dia seperti sudah kehabisan ASI di pd kanan lalu
akhirnya saya pun melanjutkan ke pd yang kiri. Saya tekan memang pd kanan
ASInya sudah tidak keluar lagi. Padahal pd itu rasanya masih kencang di
sebagian sisi, terasa masih ada ASI di dalamnya. Rasanya pun sangat sakit.
Akhirnya setelah anak saya tidur, langsung saya melakukan kompres air hangat dan massage pd dengan baby oil. Setelah
anak saya menyusu lagi barulah terasa bahwa bagian yang tadi ASInya seperti
masih tertampung sudah mau kluar. Pd saya pun akhirnya normal kembali, tidak
terasa kencang dan sakit. Terima kasih nak sudah membantu perjuangan ini.
Sejak saat itu saya sadar bahwa
menyusui memang butuh perjuangan. Mungkin itulah yang membuat muncul istilah
pejuang ASI bagi ibu-ibu yang menyusui. Tetap semangat ya ibu-ibu untuk terus
dapat menyusui hingga anak usia 2 tahun.
Jangan lupa bahagia 😊
Selasa, 31 Oktober 2017
Dokter Kandungan yang Recommended di Semarang dan Tangerang
Selama masa kehamilan, selama beberapa
bulan saya tinggal di Semarang dan beberapa bulan di Tangerang. Beruntungnya,
di kedua kota tersebut saya sama-sama kontrol di dokter kandungan yang ternyata
sangat recommended.
Saat di Semarang, yaitu sejak
mengetahui bahwa saya hamil, saya memulai cek kehamilan di dr. Purnomo
Hartanto, Sp.OG. Sejak cek yang pertama kali saya sudah merasa bahwa saya akan
berlanjut kontrol di dokter ini saja. Pertimbangan saya adalah dokternya ramah,
supel, cakap, tidak membuat panik, dan selalu mau menjawab setiap pertanyaan
pasien. Satu lagi, dokter ini juga pernah menangani kakak saya saat melahirkan
dan sama sekali tidak mengecewakan. Beliau praktik di RS Columbia Asia dan RS
Panti WIlasa Citarum. Biasanya pengguna asuransi memilih ke RS Columbia Asia
dan pengguna BPJS ke RS Panti Wilasa Citarum.
Sekitar 4 bulan usia kehamilan,
saya ke Tangerang. Di Tangerang saya memutuskan untuk cek kehamilan rutin
dengan dr. Baruch Djaja Sp. OG. Dokter tersebut merupakan rekan dokter Purnomo.
Saya pun kontrol dengan dokter Baruch atas rekomendasi dari dokter Purnomo.
Awalnya saya ragu apakah akan cek kandungan dengan dokter yang disarankan
tersebut atau tidak. Sebab tempat praktiknya lumayan jauh dari rumah. Dokter
Baruch praktik di Eka Hospital BSD. Namun, saya mencoba meluangkan waktu untuk
dapat kontrol dengan dokter tersebut daaan ternyata sangat memuaskan. Dokter
ini amat sangat ramah sekali, bahkan lebih ramah daripada dokter Purnomo.
Beliau juga dengan sabar menjawab setiap pertanyaan pasien dan juga memberikan
saran. USG pun dijelaskan dengan detail. Akhirnya saya memutuskan untuk selalu
kontrol dengan dokter Baruch saat di Tangerang. Walaupun harus menempuh jarak
yang tidak dakat dan merogoh kocek cukup dalam karena beliau praktik di rumah
sakit yang cukup mahal.
Saat usia kandungan sekitar 8
bulan, saya kembali ke Semarang karena berencana akan melahirkan di Semarang.
Saya berlanjut cek kehamilan di Columbia Asia Hospital dengan dokter Purnomo.
Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Saat usia kehamilan 39 mingggu 4 hari
saya melahirkan. Tiba di rumah sakit pukul 5 pagi, saya chat dokter Purnomo via
WA dan beliau juga merespon dengan baik. Pukul 9.40 WIB saya melahirkan secara
normal. Alhamdulillah, sakit yang luar biasa selayaknya orang melahirkan dapat
terlalui dengan cukup cepat. Setelah bayi lahir hilang semua rasa sakit. Bahkan
saat dijahit pasca melahirkan pun saya masih bisa ngobrol dengan dokter Purnomo
dan beliau juga dengan tenangnya menjahit sambil menganggapi obrolan saya. Sekali
lagi Alhamdulillah, tidak ada rasa sakit saat dijahit, hanya terasa bahwa
sedang dijahit, tetapi tidak sakit. Saya
benar-benar bersyukur.
Oh ya, ada sedikit saran untuk ibu-ibu yang sedang mengandung. Jika kontrol ke dokter kandungan sebaiknya benar-benar dipilih dokter yang memang cocok. Sehingga tidak perlu berganti-ganti dokter kandungan. Misal kontrol awal tidak cocok dengan dokternya, maka segeralah cari dokter yang benar-benar cocok. Bila ingin melahirkan di kota lain juga sebaiknya jangan terlalu berdekatan dengan HPL agar dokter di tempat yang dituju tahu betul tentang riwayat kehamilan dan lebih cepat tanggap.
Oh ya, ada sedikit saran untuk ibu-ibu yang sedang mengandung. Jika kontrol ke dokter kandungan sebaiknya benar-benar dipilih dokter yang memang cocok. Sehingga tidak perlu berganti-ganti dokter kandungan. Misal kontrol awal tidak cocok dengan dokternya, maka segeralah cari dokter yang benar-benar cocok. Bila ingin melahirkan di kota lain juga sebaiknya jangan terlalu berdekatan dengan HPL agar dokter di tempat yang dituju tahu betul tentang riwayat kehamilan dan lebih cepat tanggap.
Anyway, terima kasih dokter Purnomo,
terima kasih dokter Baruch 😊
Sabtu, 01 Juli 2017
Kawasan Kuliner Siang dan Kuliner Malam di Semarang
Hai, jumpa lagi di tulisan tentang kuliner. Kali ini saya
akan membahas tempat di Semarang yang asik untuk menikmati kuliner pada siang
dan malam hari. Jadi, bagi Anda yang sedang berkunjung ke Semarang dan ingin
bersantap siang maupun bersantap malam tidak perlu bingung lagi.
Untuk bersantap siang, tempat favorit saya adalah Taman
Segitiga Erlangga. Kawasan kuliner ini tidak jauh dari Simpang Lima, tepatnya
ada di belakang toko oleh-oleh Brilliant, posisinya ada di kanan jalan. Tempat
ini berisi beberapa pedagang makan. Ada yang menjual tahu gimbal, es campur, es
duren, es dawet duren, siomay, bakso, rujak pun juga ada. Banyak pilihan
makanan di tempat ini. Dua menu yang jadi andalan saya adalah es dawet duren
dan siomay. Bagi pecinta durian, silakan cicipi es dawet duren di tempat ini.
Dijamin akan ketagihan. Benar-benar terpuaskan oleh nikmatnya durian yang
dipadukan dengan dawet. Harga makanan di kawasan ini juga ramah kantong,
kisaran harganya sekitar dua puluh ribuan. Memang nikmat makan siang di sini. Makan
di bawah pohon yang rindang diiringi oleh alunan musik. Jangan terlalu sore
datang ke tempat ini, karena pada sore hari sudah tutup dan menjelang sore
biasanya beberapa menu sudah habis. Apalagi jika ingin menikmati dawet duren,
jangan sampai terlambat karena itu benar-benar laris manis.
Untuk kuliner malam, saya menyarankan untuk mengunjungi
kawasan Simpang Lima. Di tepi jalan berjajar pedagang kaki lima yang menjual
berbagai menu makanan. Tinggal pilih menu yang diinginkan. Sedikit tips, pilih
tempat yang memang ramai pengunjung, karena biasanya memang enak dan harganya
bersahabat. Favorit saya di tempat ini adalah nasi ayam Bu Widodo. Tempatnya
ada di ujung jalan antara Mall Ciputra dan Matahari Plaza Simpang Lima, pada
sisi kanan jalan jika akan masuk ke Jalan KH Ahmad Dahlan. Menikmati nasi ayam
dengan piring beralaskan daun pisang ini sangatlah nikmat. Apalagi bersantap sambil lesehan dan memandang ramainya jalanan Simpang Lima Semarang di malam hari, makin terasa
nikmatnya. Rasa dari nasi ayamnya pun enak menurut saya, gurihnya pas. Mengenai
harga tidak perlu khawatir, seporsi nasi ayam hanya 11.000 rupiah saja. Tinggal
tambah harga lagi jika ingin tambahan lauk. Ada ayam, ada gorengan, ada sate
jeroan. Bila mengajak anak kecil juga tidak perlu khawatir karena bisa pesan
tidak pedas (tanpa sayur labu) dan juga bisa pesan setengah porsi yang harganya
menjadi 8.000 saja.
Seporsi nasi ayam Bu Widodo
Suasana ramai di nasi ayam Bu Widodo
Penjual nasi ayam
Sate jeroan
Selamat bersantap di kawasan kuliner Semarang 😊
Minggu, 11 Juni 2017
Mencicipi Laksa Khas Tangerang
Laksa memang nama makanan yang sudah tidak asing bagi sebagian besar orang. Banyak yang lebih mengenal makanan ini dengan taste Melayu. Namun, ternyata ada juga laksa yang khas Tangerang. Bahkan di Tangerang ada suatu kawasan kuliner yang khusus menjual laksa, tepatnya di sudut antara Jalan Jend. Sudirman dan Jalan Moch. Yamin.
Kawasan kuliner laksa Tangerang
Kios-kios laksa berjejeran
Semua kios di kawasan kuliner ini khusus menjual laksa. Untuk minumnya kita dapat menikmati teh botol, air putih kemasan, maupun kelapa muda. Sebagai cemilan, ada juga otak-otak yang dijual di kawasan ini. Mengenai harga, tidak perlu khawatir. Harga paket laksa sudah dengan teh botol cukup 20 ribuan saja. Tergantung lauk yang dipilih, jika menggunakan telur bisa kurang dari 20.000. Sedangkan jika menggunakan ayam sedikit lebih dari 20.000 rupiah. Ayam yang disajikan di sini pun sudah ayam kampung.
Otak-otak dan laksa dengan telur rebus dan ayam
Untuk rasa, menurut saya tergantung selera. Memakan laksa Tangerang ini mungkin ibarat makan durian. Bila suka akan sangat suka dan jika tidak suka maka benar-benar tidak suka. Kuah laksa ini kaya akan rempah-rempah dan ada potongan kentang di dalamnya. Disajikan dengan karbohidrat berupa seperti mie besar-besar yang terbuat dari tepung beras. Untuk lauknya ada dua pilihan, yaitu telur rebus atau ayam.
Tampak dekat laksa Tangerang dengan lauk ayam kampung
Bagaimana para pecinta kuliner, ingin mencicipi uniknya laksa Tangerang? 😋
Selasa, 25 April 2017
Ikut Meramaikan Big Bad Wolf Book Sale Jakarta 2017
Mulai tanggal 21 April hingga 2 Mei 2017 diselenggarakan sebuah bazaar buku yang besar di ICE BSD yang dinamai Big Bad Wolf (BBW). Tidak butuh tiket masuk, pengunjung dapat masuk secara gratis, hanya perlu membayar parkir saja. Pada acara ini dijual berbagai macam buku, baik lokal maupun internasional dengan diskon yang sangat besar, yaitu 60%-80%. Woowww, sangat menggiurkan ya harga yang ditawarkan. Yang lebih seru lagi, event ini berlangsung dengan total 280 jam dan setiap hari buka selama 24 jam.
Tidak mau ketinggalan event menarik ini, saya pun berkunjung ke sana pada hari Sabtu tanggal 22 April 2017. Saya tiba di tempat tersebut sudah cukup malam, sekitar pukul 20.30 WIB. Namun, di luar dugaan, tempat ini ternyata masih sangat ramai. Tidak hanya orang dewasa, remaja dan anak-anak pun juga sangat antusias datang ke sini. Ketika akan memasuki hall saya melihat pemandangan yang menyenangkan, yaitu para pengunjung yang memborong buku hingga memenuhi trolley yang didorongnya. Cukup besar ternyata minat baca yang ada.
Setelah memasuki hall, terlihat begitu banyak buku tersusun rapi di ruangan yang sangat luas itu. Tidak hanya orang tua saja yang antusias memilih buku, tetapi juga anak-anak. Sebab buku yang tersedia memang tidak hanya buku untuk remaja atau orang dewasa saja, tetapi juga untuk anak-anak. Bahkan buku impor untuk anak-anak sangat variatif, menarik, dan sangat murah pastinya. Puzzle lokal yang sangat murah meriah untuk anak-anak pun juga tersedia.
Buku impor untuk anak-anak yang berupa board book harganya ada yang hanya 20.000 rupiah saja. Dengan uang 30.000 rupiah, board book yang isinya sudah berupa pop-up book sudah dapat terbeli. Padahal biasanya harganya bisa lebih dari 100.000 rupiah. Harga buku fiksi maupun non-fiksi lokal sekitar 10.000 rupiah pun banyak. Novel dengan harga sekitar 25.000 rupiah juga sangat bervariasi.
Suasana di BBW 2017 pada malam hari
Board Book yang hanya 30.000 rupiah
Board Book yang hanya 20.000 rupiah
Buku non-fiksi
Buku non-fiksi
Beberapa buku hasil hunting di BBW 2017
Sangat menyenangkan dikelilingi oleh begitu banyak buku yang menarik dan murah meriah. Rasanya masih ingin membeli banyak buku di sini, tetapi kaki dan pinggang sudah sangat pegal untuk berkeliling lagi. Jadi saya memutuskan untuk pulang dengan membeli beberapa buku menarik yang sudah saya dapatkan. Anda belum berkunjung ke BBW 2017? Jangan khawatir, masih ada waktu hingga tanggal 2 Mei 2017 pukul 23.59 WIB.
Happy world book day 😊
Rabu, 05 April 2017
Serunya Berlibur ke Beijing (Part 2)
Hai, akhirnya sampai juga pada lanjutan dari tulisan saya sebelumnya yaitu Serunya Berlibur ke Beijing (Part 1). Pada artikel ini saya akan berlanjut menceritakan tempat-tempat yang kami kunjungi di Beijing pada hari keempat hingga kembali ke tanah air.
Perjalanan
hari keempat (Rabu, 15 Februari 2017)
Pada
hari keempat ini, saya memutuskan untuk beristirahat di hotel terlebih
dahulu. Lebih tepatnya saya dan suami. Sebab badan sudah benar-benar lelah
sedangkan kondisi sedang hamil, jadi saya memutuskan untuk prioritaskan kondisi
tubuh. Di hari ketika saya beristirahat ini, keluarga mengunjungi Summer Palace dan Qianmen Street.
1.
Summer Palace
Keluarga bercerita bahwa tempat ini merupakan kawasan kuil yang amat sangat luas
dan sangat indah juga. Di kawasan ini juga terdapat danau. Begitu banyak bagian
tempat ini yang bagus untuk berfoto ria. Entah bagaimana remuk redamnya rasa
kaki dan pinggang saya jika ikut mengunjungi tempat ini, haha.
Berfoto di Summer Palace
2.
Qianmen Street
Menjelang
malam keluarga berlanjut menuju Qianmen street. Kawasan ini enak untuk berjalan-jalan
santai dan juga berbelanja, karena kawasan ini memang bebas dari kendaraan
bermotor. Suasana khas Cina sangat terasa di sini. Di area yang sangat luas ini
terdapat berbagai macam pertokoan. Ada Madame Tussauds, kedai teh, berbagai
macam tempat makan, berbagai macam toko dan kios yang menjual beraneka barang serta pernak-pernik juga ada di tempat ini. Harganya pun cukup terjangkau.
Keesokan harinya kami semua bersama-sama mengunjungi Qianmen Street lagi
setelah mengunjungi Bird Nest Stadium.
Tampak depan Madame Tussauds di Qianmen Street
Suasana Qianmen Street saat malam hari
Gang tempat berbelanja di Qianmen Street
Makan di restoran sekitar Qianmen Street
Gang tempat berbelanja di Qianmen Street
Saat keluarga mengunjungi Summer Palace dan Qianmen street pada hari keempat, saya dan suami
memutuskan untuk banyak beristirahat. Tidur di penginapan untuk melepas lelah
agar besok sudah fit lagi. Siang hari baru kami keluar untuk mencari makan.
1.
Jalan-jalan dan kuliner di sekitar penginapan
Kami
berdua beranjak dari penginapan dan berjalan-jalan di sekitar penginapan untuk
mencari makan juga melihat-lihat apa saja yang ada di dekat penginapan.
Kami pun makan cukup enak dengan menu nasi dengan sayuran dan ayam. Entah
kenapa porsi makan di China selalu jumbo dan selalu terlihat warga lokal baik pria maupun wanita sanggup menghabiskan porsi jumbo tersebut. Kami juga membeli
beberapa cemilan yang menurut kami enak. Di dekat penginapan juga ada tempat yang menjual mie dengan rasa yang enak dan kita dapat memilih isiannya sendiri.
Nasi ayam dan sayur
Snack ayam
Mie dengan isinya yang pilih sendiri
2.
Menikmati makan malam di cafe penginapan
Untuk
makan malam, kami berdua memutuskan tidak keluar dari penginapan lagi. Hanya turun ke lantai dasar untuk makan malam di cafe yang ada di
penginapan. Menu pilihan kali ini adalah spaghetti bolognese dan kentang goreng.
Rasa spaghetti nya lumayan dan kentang
gorengnya sangat enak menurut saya. Jadi, keputusan untuk menginap di Dragon
King Hostel ini adalah keputusan yang tepat.
Spaghetti dan kentang goreng di Dragon King Hostel
Perjalanan
hari kelima (Kamis, 16 Februari 2017)
1.
Houhai Lake
Yeay,
hari ini saya sudah kembali bertenaga. I’m
ready to go around. Hari ini kami keluar dari penginapan sekitar pukul setengah
11 untuk menuju Houhai Lake. Kami mendengar info bahwa bila Houhai Lake
membeku, tempat tersebut dapat digunakan untuk bermain ice skating. Sayangnya
saat ke sana, ternyata Houhai Lake sedang tidak membeku, jadi kami hanya
berfoto sebentar di sana. Di sana juga ada beberapa toko souvenir dan beberapa cafe, tetapi kami lebih memilih untuk berfoto
saja lalu beranjak ke destinasi selanjutnya, yaitu National Stadium atau yang
biasa disebut dengan Bird Nest Stadium.
Berfoto di Houhai Lake
2.
Bird Nest Stadium
Saat tiba
di Bird Nest Stadium langsung dapat diketahui kenapa tempat ini diberi nama Bird Nest
Stadium. Ternyata stadion ini memeliki bentuk yang menyerupai sangkar burung.
Saat melihat Bird Nest Stadium di sebelah kanan, di sisi sebelah kiri juga
tampak National Aquatic Center atau Water Cube yang digunakan untuk cabang
olahraga air. Kawasan ini sangat luas dan stadionnya tampak sangat modern. Di sini juga ada tempat yang
disediakan utuk bermain ski, tetapi karena beberapa hari yang lalu sudah bermain ski, jadi kami
memutuskan untuk tidak bermain ski di sini. Cukup berjalan-jalan dan
foto-foto saja. Itu pun sudah sangat lelah karena tempat ini
cukup luas, ditambah dengan angin yang kencang saat itu membuat kami semakin
kedinginan. Oh ya, ada yang menarik di sini. Sebelum masuk ke area ini ada
sebuah toko souvenir yang penjualnya
bisa menjual dengan Bahasa Indonesia. Walaupun mereka tidak benar-benar
mengusai Bahasa Indonesia, tetapi mereka dapat sedikit-sedikit bahasa kita
untuk berjualan, sehingga ini cukup membantu kami dalam berbelanja. Apalagi
barang-barang di tempat ini termasuk murah.
Berfoto di depan Bird Nest Stadium
Perjalanan
hari keenam (Jum’at, 17 Februari 2017)
1.
Temple of Heaven
Hari
ini kami baru keluar dari penginapan sekitar pukul 11.30 sebab harus packing terlebih dahulu. Kemudian memutuskan untuk menuju Temple of Heaven. Ternyata kawasan ini sangat asri. Tidak
hanya berisi kuil saja, tetapi juga memiliki taman luas yang cocok untuk
berjalan-jalan sambil menikmati suasana. Di taman tersebut banyak nenek dan
kakek yang berkumpul sambil bermain kartu, mahjong, maupun berolahraga. Sangat
senang melihat nenek dan kakek yang ada di sini beraktivitas bersama-sama.
Mereka tampak sehat dan bugar walaupun sudah lanjut usia.
Berfoto di Temple of Heaven
Foto dengan warga lokal setelah olahraga bersama
2.
Hongqiao Pearl Market
Hanya
dengan berjalan kaki dari Temple of Heaven, kami sudah dapat mencapai Hongqiao Pearl Market. Jaraknya cukup dekat. Tempat ini berbentuk seperti mall. Pada lantai
atas digunakan untuk para penjual perhiasan, khususnya pearl. Sedangkan lantai-lantai sebelumnya menjual berbagai macam
barang, ada kosmetik, pernak-pernik untuk oleh-oleh, tas, juga baju. Ada
sedikit tips untuk berbelanja di tempat ini, yaitu kita sebaiknya mengetahui
kisaran harga barang yang akan dibeli, sebab ada banyak penjual yang menawarkan
dengan harga tinggi terlebih dahulu. Kadang harga awal yang ditawarkan tidak
masuk akal, bisa sampai 5 kali dari harga sesungguhnya, walaupun ada juga yang mulai menawarkan hanya dari 2 kali harga sesungguhnya.
Setelah
dari Hongqiao Pearl Market kami kembali ke Dragon King Hostel untuk
beristirahat sejenak dan final packing. Pukul
9 malam berangkat menuju bandara. Jadwal pesawat pukul 1.30 menggunakan Malaysia Airlines dan transit di KLIA. Karena delay beberapa saat, kami tiba di Soetta
sekitar pukul 13.30 WIB pada hari Sabtu, 18 Februari 2017.
Itulah kisah kami saat berlibur ke Beijing, seru dan tetap menyenangkan. Mungkin teman-teman yang suka travelling tanpa travel agent juga dapat mengunjungi tempat-tempat yang kami kunjungi ini saat berlibur ke Beijing dan menggunakan tulisan ini sebagai pedoman untuk menentukan destinasi wisata.
Happy travelling ☺
Itulah kisah kami saat berlibur ke Beijing, seru dan tetap menyenangkan. Mungkin teman-teman yang suka travelling tanpa travel agent juga dapat mengunjungi tempat-tempat yang kami kunjungi ini saat berlibur ke Beijing dan menggunakan tulisan ini sebagai pedoman untuk menentukan destinasi wisata.
Happy travelling ☺
Langganan:
Postingan (Atom)
Menyapih dengan Rela (Last Part)
Langsung kita lanjutkan postingan sebelumnya, yaitu Menyapih dengan Rela (Part 3) . Sakit membuatnya jauh dari kata nyaman. Nafsu makan pun ...
-
Langsung kita lanjutkan postingan sebelumnya, yaitu Menyapih dengan Rela (Part 3) . Sakit membuatnya jauh dari kata nyaman. Nafsu makan pun ...
-
Selama masa kehamilan, selama beberapa bulan saya tinggal di Semarang dan beberapa bulan di Tangerang. Beruntungnya, di kedua kota tersebut...
-
Membuat paspor mungkin termasuk hal yang dianggap ribet oleh sebagian orang. Jujur saja, awalnya saya juga merasa demikian. Namun, akhirnya ...

































